Sabtu, 18 Juli 2015

IBADAH DALAM ISLAM



Didalam sebuah hadis khudsi allah swt berfirman “Wahai hamba-hamba-Ku, Aku tidak menciptakan kalian agar Aku merasa nyaman dengan kalian dari kesepian. Tidak pula agar aku dapat memperbanyak diri dengan kalian dari kesedikitan. Tidak untuk  aku jadikan kalian sebagai tempat meminta pertolongan dari kesendirian menghadapi perkara yang tidak mampu aku hadapi, dan bukan untuk memperoleh manfaat. Tidak pula untuk menolak kemudhraratan tetapi aku menciptakan kalian tidak lain agar kalian beribadah kepadaku dalam waktu yang lama serta mengingat-ku banyak – banyak pada pagi dan petang”. Sebuah hadis yang tidak perlu kita pertanyakan lagi kebenarannya.
Kita dicaptakan oleh allah swt untuk beribadah, lantas apa hakikat ibadah dalam islam.? Apa saja yang termasuk dalam ibadah.?
Makna ibadah dalam isitilah bahasa (Etimologi) adalah tunduk dan ketaatan, Setiap ketaatan kepada Allah dengan disertai ketundukan serta merendahkan diri berarti ibadah. Jadi ketika kita bekerja den, belajar, megurus rumah tangga, dan membantu orang lain semua itu kita lakukan dengan ketundukan dan ketaatan kepada allah itu semua merupakan ibadah.
Ibadah dalam syariat berarti ketundukan dan kecintaan, Syaikhul islam Ibnu Taimiyah memandang terhadap ibadah dengan pandangan yang lebih dalam dan luas. Disamping mengetengahkan makna asli didalam istilah yakni puncak ketundukan dan ketaatan juga diketengahkan unsur baru yang memiliki urgensi sangat besar didalam islam dan pada setiap agama, suatu unsur yang mana ibadah tidak akan terwujud –sebagaimana yang diperintahkan allah- kecuali dengan unsur tersebut, yaitu “kecintaan”. Tidak ada dialam dunia ini yang berhak dicintai dari pada allah ta’ala. Dialah pemilik keutamaan, kebaikan, yang menciptakan manusia sedangkan manusia itu bukanlah merupakan sesuatu yang berarti bagi-Nya. Dia menciptakan apa-apa yag ada dibumi ini bagi manusia, memenuhi nikmat-nikmatnya bagi manusia, baik yang tampak ataupun tidak, menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Juga memberinya karunia berupa berbagi kebaikan, mengajarinya berbagai retorika hingga pandai dan bisa berbicara, menjadikannya khalifah dimuka bumi ini, meniupkan ruh-Nya didalam diri manusia, dan membuat para malaikat sujud kepadanya. Lantas siapa yang lebih utama untuk “DICINTAI” dari pada Alllah ta’ala.? Sesungguhnya dasar kecintaan kepada allah ta’ala adalah merasakan keutamaan dan nikmat darinya, kebaikan dan kasih sayangnya, serta meresapi keindahan dan kesempurnaaNya. Maka siapa yang mencinatai kebaikan allahlah pemberi kebaikan itu.
Siapa yang mencintai keindahan, maka alllahlah sumber keindahan itu. Siapa yang mencintai kesempurnaan, maka pada hakikatnya tidak ada kesempurnaan kecuai kesempurnaan allah. Siapa yang mencintai dirinya sendiri maka, maka allahlah yang menciptakan dirinya itu.
Siapa yang mengenal allah, maka dia mencintaiNya. Marilah saudara-saudaraku kita mencari ilmu tentang mengenal allah agar kita dapat mencintainya melebihi cinta yang lain didunia ini, karena hanya dialah yang utama yang patut dicintai ya saudaraku.
Lalu kita akan membahas metode yang ideal dalam pengajaran ibadah, bila beribadah kepada allah adalah hak pertama allah atas kita, maka mempelajari dan mengajarkannya merupakan kewajiban bagi kita. Ibadah utama yang harus dimengerti dan dipahami adalah ibadah – ibadah ritual yang telah ditentukan bentuknya, sifatnya, dan metode pelaksanaanya oleh syariat. Ibadah-ibadah itu adalah shalat, puasa, zakat, dan haji. Keempat ritual inilah yang dijadikan rasul yang agung setelah dua kalimat syahadat sebagai rukun islam dan bangunannya yang megah.
Namun dalam hal beribadah yang harus kita pelajari adalah fiqih ibadah bukan ilmu ibadah, jika ilmu ibadah hanya mengajarkan tatacara teoritis dalam melaksanakan suatu ibadah, hanya mengajarkan gambaran ibadah, gerak-gerik dan bentuk luarnya saja. Kita hendak mengarahkan masyarakat kepada ruh ibadah, bukan gambaran luar ibadah. Degan kata lain yang menjadi tujuan kita adalah fikih ibadah bukan ilmu ibadah. “Fikih” yakni pemahaman merupakan makna diatas ilmu, dan memahamkan lebih khusus dari pada mengajarkan. Ilmu berkaitan dengan akal dan kepala sedangkan fikih lebih dari itu, ia meliputi ruh dan jiwa. Namun sekarang ini pengertian fikih sudah mengalami perubahan/pergeseran yang menjadikannya sekedar ilmu yang kering. Dibuku ini dijelaskan bagaimana pengertian fikih bergeser menjadi ilmu yang kering namun akan saya singkat penjelasannya seperti ini “ilmu fikih dibuat sangat complicated/ngejelimet sehingga sulit untuk dipelajari apa lagi oleh orang-orang muslim yang awam yang sudah sangat disibukkan oleh aktivitas-aktivitas tuntutan kehidupan”.
Fikih yang kita inginkan adalah bukan yang ada seperti saat ini yang hanya mengajarkan tata cara  tetapi yang kita inginkan adalah ilmu fikih lebih dari itu, yaitu ilmu fikih yang melunakkan hati, mensucikan jiwa, mengingatkan akan akhirat, dan menerangi jalan menuju allah.
Fikih shalat misalnya, yang kita inginkan adalah mengetahui rahasia shalat, dan memahami inti sari serta ruhnya. Berikut adalah fikih shalat yang digambarkan oleh Hatim Al-Asham. Ditanyakan kepadanya, “Bagaimanakah engkau mendirikan shalat.?” Dia berkata, “aku berwudhu dan kusempurnakan wudhuku. Kemudian aku mendatangi tempat shalatku dengan tenang dan damai. Aku bertakbir dengan segenap penghormatan. Aku membaca Al-Qur’an dengan tartil, aku ruku’ dengan khusyu, aku bersujud dengan kerendahan hati, aku gambarkan syurga di kananku dan neraka disamping kririku, sirath dibawah kakiku, Ka’bah dihadapanku, malaikat maut diatas kepalaku, dosa-dosaku mengelilingiku. Mata allah melihat kearahku, aku bayangkan ini adalah shalat terakhirku, dan aku ikuti dengan ikhlas semampuku”.
Inilah pelajaran fikih yang kita inginkan, tidak hanya belajar teori-teori ibadah yang kering dan mononton seoalah-olah dia adalah teori-teori  geometri dan rumus-rumus kimia.
Dan juga kita seharusnya memahami arti dari setiap gerakkan shalat serta bacaannya jadi kita tidak hanya bergerak begini dan begitu serta membaca ini dan itu tanpa mengetahui maknanya karena ada sebuah kisah seorang ustadz yang bingung mengapa kondisi masyarakat kini begitu memprihatinkan tindak kriminal dimana-mana, kemiskinan meningkat padahal mayoritas masyarkatnya adalah umat islam yang sehari 5 kali mereka bertemu dengan allah, ternyata sang ustadz melakukan penelitian diberbagai daerah tentang pemahaman mereka dengan bacaan solat hampir semua orang yang menjadi sampel penelitiannya mengaku tidak memahami bacaan shalatnya. Semoga kita diberi kemudahan oleh allah untuk memahami arti bacaan shalat kita.
Hal lain yang perlu kita terapkan dalam mengajarkan ibadah adalah “KESEDERHANAAN” di kisahkan bahwa sang penulis buku ini (Yusuf Qardhawi) pernah mengajak kau muslimin dan muslimat disuatu desa untuk solat. Mereka beralasan dengan melepaskan diri bahwa mereka tidak mengetahui tata cara shalat, syarat dan kewajiban shalat. Setelah diusut ternyata orang – orang yang mengajarkan mereka wudhu membutuhkan waktu berhari-hari dan dia tidak selesai dari mengajarkannya. Dia menganjurkan kepada mereka untuk mengucapkan doa pada permulaan wudhu dengan doa tertentu, ketika memasukkan air kelubang hidung mengucapkan doa tertentu, ketika membasuh wajah mengucapkan begini, dan mengusap setiap anggota badan mengucapkan doa khusus yang harus dihafal diluar kepala.
Sungguh ribetnya agama ini jika harus demikian, masih banyak hal-hal lain dalam agama ini yang perlu kita prioritaskan. Betapa sedihnya kita yang selama ini diberikan pengajaran agama dengan metode yang kering yang tak dapat melunakkan hati, menyalakan api semangat jiwa, semangat taat kepada allah, takut pada allah dan hari akhir.
Didalam buku “IBADAH DALAM ISLAM” banyak pelajaran-pelajaran tentang kesimpelan/kesederhanaan dalam menjalankan ibadah seperti yang masih diyakini banyak masyarakat muslim sekarang adalah bersentuhan antara lelaki dan wanita membatalkan wudhu tetapi sebenarnya tidak demikian, lalu ada materi mengenai apa tujuan dan kenapa manusia diciptakan, segi-segi dalam ibadah islam, reformasi islam dalam segi ibadah, tujuan ibadah dalam islam, dan metode pengajaran ibadah yang ideal.
              Semoga dengan buku ini, kita semua mampu mengasah pedang kita untuk mengajarkan agama ini minimal ke anak-anak kita dengan fikih yang tidak kering, lebih dari hanya teori-teori tata cara beribadah, namun lebih dari itu yaitu meliputi melunakkan hati, mensucikan jiwa, mengingatkan akan akhirat, dan menerangi jalan menuju allah.