Jumat, 29 Januari 2016

KISAH SEORANG NENEK DI TINGGAL SANG ANAK

Kisah ini diambil dari kisah nyata seorang nenek yang penulis dan ibu penulis temui di Pasar Anyar Kabupaten Bogor.

Ketika saya menemani ibu pergi kepasar saat menunggu disebuah toko, datanglah seoarang nenek yang hendak mebeli obat. Sang nenekpun duduk disebalah ibu saya menunggu pesanan obatnya, disinilah cerita dimulai. Awalnya ibu saya menanyakan sakit apa yang di derita sang nenek, nenekpun bercerita tentang penyakitnya. Nenek menderita sakit batuk yang tak kunjung sembuh sepertinya sudah lama sang nenek menderita batuk tersebut penulis fikir. Sang nenek pun terus bercerita tentang penyakitnya ternyata batuk yang diderita sang nenek diakibatkan dari jantungnya yang membengkak. Sang nenekpun sempat merasa putus asa dan pernah meminta ke dokter untuk disuntik mati saja. Lalu sang nenek pun menceritakan kehidupannya, ternyata suami sang nenek telah lama meninggal dunia, sang suami adalah seoarang dosen di IPB meninggal dunia setelah pulang dari kalimantan karena penyakit jantung. Suami sang nenek meninggal ketika anaknya yang paling kecil berusia 2 tahun sekitar tahun kurang dari 2000 sehingga sang nenek menjadi seoarang single parent yang membesarkan 3 orang anaknya kalau penulis tidak salah mendengar. Sang nenekpun bekerja menjadi sekertaris di perusahaan asing karena kemampuan bahasa Inggris yang  dia miliki.
Singkat cerita ketika anak-anaknya sudah besar ada yang sudah berkeluarga, bekerja, dan kuliah sang nenek merasa sedih karena tidak diperhatikan anak – anaknya. Ketika sang nenek sedang susah seperti itu tidak ada atau mungkin jarang anak – anaknya memperhatikan, tetapi kata sang nenek ketika nenek punya uang sang anak datang dan meminta – minta sedih hati sang nenek menelan realita ini.
Sang nenek pun sedih beserta kesal kepada menantunya (istri dari anaknya) suatu hari sang anak memberikan amplop yang berisi uang kepada sang nenek namun setelah itu sang mantu mengambilnya lagi dari sang nenek. Sang nenek pun karena merasa kesal bertanya kepada sang anak, “orang – orang punya istri yang baik, sopan dan santun tetapi kenapa istrimu tidak..? sang anakpun hanya bisa menjawab I don’t know mom. Kasihan sekali nasib sang nenek.
Sang nenekpun bercerita bahwa anaknya berkuliah ada yang di UNPAD dan di UI, penulispun berfikir bahwa anak sang nenek meruapakan anak yang pintar – pintar karena bisa masuk universitas negri, penulispun berpendapat bahwa itu merupakan faktor gen karena orang tuanya yang pintar – pintar terbukti dari sang nenek yang jago bahasa inggris dan suaminya seoarang dosen.
Tetapi kepintaran anak – anak sang nenek mungkin hanya kuat di IQ saja tetapi kurang di EQ dan SQ. Memang penulis sendiri merasakan bahwa pendidikan di Indonesia sekarang ini hanya menitikberatkan pada IQ saja sedangkan kurang pada EQ dan SQ  belum lagi kalau kita ingin memasukkan AQ, hal inilah yang penulis harapkan agar kedepan pola pendidikan di Indonesia bahkan didunia ini bisa menyeimbangkan pendidikan IQ, EQ, dan SQ nya.
Hikmah yang penulis bisa dapatkan adalah seimbangkanlah IQ, EQ, dan SQ anda dan anak – anak anda, dan betul – betullah pahami agama ini dengan sebaik – baiknya karena sangat banyak hal yang tak dapat dijangkau akal kita ataupun dapat di kontrol oleh kita. Tetapi jika kita Yakin Betul bahwa ada Sang Maha Pengatur yang selalu mengatur urusan didunia ini pastilah hati ini akan menjadi tenang.
Penulis berharap semoga semua dari kita diberikan petunjuk agar menjalani hidup ini dengan baik. Aamiin.