3 Inti Kehidupan

Inti Kehidupan Ada Tiga Hal


Dalam perjalanan hidup, manusia tidak lepas dari nikmat, ujian, dan dosa. Tiga hal ini menjadi inti kehidupan yang menentukan kualitas iman dan ketakwaan seorang hamba. Allah memberikan petunjuk jelas agar manusia mampu bersyukur atas nikmat, bersabar di tengah ujian, dan segera kembali memohon ampun ketika terjerumus dosa, sehingga hidup senantiasa selaras dengan ridha-Nya.

Setiap manusia yang menghirup nafas pertama di dunia ini telah diberikan nikmat yang tak terhitung jumlahnya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nikmat itu bisa berupa kesehatan, rezeki, keluarga, ilmu, dan berbagai kemudahan yang sering dianggap biasa, padahal setiap helai nafas, detik waktu, dan rezeki yang diterima merupakan bukti nyata rahmat Allah. Oleh karena itu, kewajiban utama seorang hamba adalah bersyukur. Allah berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
(Wa idh ta’adhdhana rabbukum la’in syakartum la’azidannakum wa la’in kafartum inna ‘adzabi la syadid)
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu ingkar, maka sesungguhnya azab-Ku amat berat.’” (QS. Ibrahim: 7)

Syukur memiliki tiga rukun yang harus dipenuhi agar hakikatnya tersampaikan: pertama, mengakui dalam hati bahwa segala nikmat berasal dari Allah; kedua, mengucapkan syukur dengan lisan; ketiga, menggunakan nikmat tersebut untuk mencapai ridha-Nya. Misalnya, harta yang diberikan Allah digunakan untuk membantu orang lain, ilmu yang diberikan diaplikasikan untuk kebaikan, dan kesehatan dijaga untuk ibadah dan kebaikan sesama. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ
(Man lam yashkuri an-nasa lam yashkuri Allah)
“Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah.” (HR. Abu Dawud)

Namun, kehidupan tidak selalu dipenuhi kenikmatan. Kadang Allah menguji hamba-Nya dengan kesulitan, cobaan, atau musibah agar iman dan kesabaran diuji. Sabar adalah menahan diri dalam tiga dimensi: menahan hati dari marah dan kesal terhadap takdir Allah, menahan lisan dari keluhan dan penggerutan, serta menahan anggota tubuh dari perbuatan maksiat atau perilaku ‘tidak terima’.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
(Ya ayyuha alladhina amanu ista’inu bis-sabri was-salah, inna Allaha ma’as-sabirin)
“Hai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Sabar bukan berarti pasif, melainkan aktif menjaga akhlak dan ketaatan dalam menghadapi ujian. Ketika kesulitan datang, hati tetap tenang, lisan tetap sopan, anggota tubuh tetap pada batas yang diridhoi Allah. Bahkan, ujian yang dihadapi bisa menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah, membersihkan dosa, dan menambah pahala. Rasulullah SAW bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
(Ajaban li-amril mu’mini inna amrahu kullahu khair, wa laysa dzaka li-ahadin illa lil mu’min, in asabat-hu sarra shukara fakana khairan lahu, wa in asabat-hu dharra sabara fakana khairan lahu)
“Alangkah menakjubkan urusan seorang mukmin; semua urusannya baik. Hal ini tidak dimiliki kecuali oleh mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur dan itu menjadi kebaikan baginya; jika ia mendapat kesulitan, ia bersabar dan itu menjadi kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Selain nikmat dan ujian, dosa menjadi bagian tak terhindarkan dari kehidupan manusia. Namun Allah memberikan solusi: istighfar dan taubat. Segera kembali kepada Allah dengan menyesali dosa, memohon ampun, dan berjanji untuk memperbaiki diri. Orang bertakwa akan merasakan efek positif dari dosa yang diingatinya, karena setiap kesalahan menjadi pelajaran dan pemicu ketaatan yang lebih besar. Allah berfirman:

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا
(Wa man ya’mal su’an aw yazlim nafsahu thumma yastaghfirillaha yajidillaha ghafooran rahima)
“Barang siapa berbuat kejahatan atau menganiaya dirinya sendiri kemudian memohon ampun kepada Allah, niscaya ia akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 110)

Dengan memahami tiga inti kehidupan ini syukur, sabar, dan taubat manusia dapat menjalani hidup yang bermakna, menenangkan hati, dan selaras dengan ridha Allah. Setiap nikmat menjadi sarana bersyukur, setiap ujian menjadi tempat mengasah kesabaran, dan setiap dosa menjadi kesempatan untuk kembali suci. Inilah hakikat hidup yang diajarkan Allah, yang bila diamalkan sepenuh hati, menghadirkan kedamaian dunia dan akhirat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEBIASAAN

Perkecil Circlemu

Bipolar Dan Kopi