Bukan Rezekimu Yang Sedikit Tapi Syukurmu

Bukan Rezekimu Yang Sempit



Sering kali manusia mengira bahwa sempitnya rezeki adalah sebab utama dari gelisahnya hati, padahal kurangnya rasa syukur justru lebih sering menjadi akar bagi kegelisahan itu sendiri. Syukur adalah cahaya yang membuat sedikit terasa cukup dan banyak terasa bermakna. Tanpa syukur, nikmat sebesar apa pun terasa kosong dan jauh dari membawa ketenangan.


Dalam perjalanan hidup, manusia tidak pernah berhenti berharap agar Allah melapangkan rezekinya. Namun sering kali yang sempit bukanlah rezeki itu sendiri, melainkan hati yang belum belajar menghargai apa yang telah Allah titipkan. Gambar tentang seseorang yang sedang memancing di tengah hamparan pegunungan mengingatkan kita bahwa ketenangan tidak selalu hadir ketika nikmat melimpah, tetapi saat hati mampu melihat anugerah Ilahi pada hal yang tampak sederhana. Di sinilah makna syukur menemukan tempatnya.


Rasulullah ﷺ bersabda sebagaimana ditulis dalam gambar: "Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak." Hadis ini diriwayatkan dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 667. Ini bukan hanya nasihat moral, melainkan kaidah ruhani yang membentuk cara pandang mukmin terhadap nikmat Allah. Hati yang tidak terlatih mensyukuri secuil nikmat akan tumpul ketika berhadapan dengan nikmat besar, bahkan ia akan merasa kekurangan meski dikelilingi kelimpahan.


Allah Ta‘ala mengingatkan dalam Al-Qur’an:

﴿وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ﴾

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’" (QS. Ibrahim: 7)


Ayat ini menunjukkan janji yang tidak mungkin Allah ingkari: syukur akan menghadirkan tambahan nikmat, bukan hanya dari sisi materi, tetapi terutama kelapangan batin dan ketenangan jiwa. Sebaliknya, kufur nikmat bukan hanya menutup pintu rezeki, tetapi juga menyempitkan dada hingga dunia terasa sempit meski harta berlimpah.


Ucapan lelaki Arab kepada Khalifah Ar-Rosyid dalam kisah yang engkau sertakan adalah gambaran betapa dalamnya pemahaman para ulama dan orang terdahulu tentang nikmat Allah. Ia berdoa: “Semoga Allah menampakkan nikmat yang ada padamu namun tidak engkau rasakan.” Kalimat ini menyiratkan bahwa betapa banyak nikmat yang sebenarnya telah Allah berikan tetapi manusia tidak menyadarinya: sehat yang sering disepelekan, udara yang tak pernah diminta namun selalu diberikan, keluarga yang menjadi tempat pulang, serta iman yang menjaga langkah dari kesia-siaan.


Syukur tidak hanya diwujudkan dengan ucapan alhamdulillah, tetapi melalui pandangan yang jernih terhadap karunia Allah. Ibnul Qayyim dalam Al-Fawaid menjelaskan bahwa nikmat memiliki tiga bentuk: nikmat yang tampak, nikmat yang tersembunyi, dan nikmat yang akan datang. Semua itu layak disyukuri karena Allah memberikan bukan berdasarkan kehebatan hamba, tetapi karena kasih sayang-Nya yang tidak pernah berhenti. Pandangan seperti ini membuat hati menjadi lembut dan jauh dari keluh kesah.


Allah berfirman:

﴿وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ﴾

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka dari Allah-lah (datangnya).” (QS. An-Nahl: 53)


Ayat ini menuntun seorang mukmin untuk selalu menengok kepada Pemberi nikmat, bukan sibuk menakar besar-kecilnya nikmat itu sendiri. Ketika hati terbiasa memandang dari kacamata tauhid, maka sekecil apa pun pemberian Allah terasa sangat berharga. Begitu pula ketika seseorang merasakan kegembiraan saat mampu melakukan ketaatan, itu pun termasuk nikmat yang wajib disyukuri.


Dalam hadis lain Rasulullah ﷺ bersabda:

﴿مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا﴾

"Barang siapa di antara kalian bangun di pagi hari dalam keadaan aman, sehat, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia seluruhnya telah diberikan kepadanya." (HR. At-Tirmidzi)


Hadis ini menegaskan bahwa standar kebahagiaan seorang mukmin sangat sederhana. Jika keamanan, kesehatan, dan kecukupan pokok telah Allah berikan, maka sebenarnya ia telah mendapatkan dunia dalam batas yang memadai. Namun ketika hati kehilangan rasa syukur, ia akan tampak seperti orang yang tidak pernah cukup, selalu membandingkan, dan merasa sempit meski Allah melimpahkan banyak karunia.


Syukur juga berkaitan erat dengan prasangka baik kepada Allah. Orang yang yakin bahwa Allah Maha Pengasih tidak akan mudah merasa sempit terhadap rezeki. Ia percaya bahwa setiap ketetapan adalah bentuk kasih sayang yang mungkin belum ia pahami. Keyakinan ini membuatnya lapang, sabar, dan terus berusaha tanpa keluh kesah. Sebagaimana disebutkan dalam doa lelaki Arab itu: “Semoga Allah memberikan nikmat yang engkau harap-harap dengan engkau berprasangka baik kepada-Nya.”


Dalam kehidupan sehari-hari, syukur bukan sekadar teori tetapi sikap praktis: menerima dengan ridha, memanfaatkan nikmat dengan benar, tidak mengeluh tanpa alasan, dan menggunakan waktu, tenaga, serta harta dalam ketaatan. Inilah makna syukur yang disebut oleh para ulama sebagai syukrul qalb (syukur hati), syukrul lisan (syukur lisan), dan syukrul jawarih (syukur anggota badan).


Ketika seseorang belajar melihat nikmat kecil sebagai karunia besar, maka hatinya akan menjadi tenang. Dunia tidak lagi terasa menekan. Ia akan lebih dermawan, lebih sabar, dan lebih mudah memaafkan. Sebaliknya, orang yang menganggap nikmat besar sebagai hal kecil akan selalu berada dalam kegelisahan, karena hatinya tidak pernah mengenal rasa cukup. Di sinilah letak kebenaran pesan pada gambar tersebut: “Bukan rezekimu yang sempit, tapi rasa bersyukurmu yang sedikit.”


Pada akhirnya, syukur adalah kunci yang membuka pintu ketenangan dan keberkahan. Allah memberi nikmat bukan untuk membuat manusia bergantung pada dunia, tetapi agar manusia makin dekat kepada-Nya. Ketika syukur tumbuh dalam hati, maka hidup akan terasa ringan, langkah menjadi terarah, dan ujian pun terasa sebagai bagian dari cinta Allah kepada hamba-Nya. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang pandai mensyukuri nikmat-Nya, sekecil apa pun nikmat itu tampak di mata kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEBIASAAN

Perkecil Circlemu

Bipolar Dan Kopi