Dunia Tanpa Agama "Meninabobokan" Kita

Ketika Harta Membutakan Cahaya Hidayah


Kadang manusia merasa telah mencapai puncak hidup: keluarga harmonis, usaha maju, harta melimpah. Namun tanpa disadari, semua itu bisa menjadi tirai yang menutupi cahaya petunjuk. Banyak yang mengira kesuksesan dunia tanda keberkahan, padahal justru bisa menjadi ujian paling halus yang menjauhkan dari Al-Qur’an dan Allah.

Manusia sering tertipu oleh kenikmatan yang tampak. Rumah besar, kendaraan mewah, dan senyum keluarga di meja makan dianggap tanda kebahagiaan sejati. Padahal, kebahagiaan yang tidak disertai ilmu dan zikir hanyalah fatamorgana. Allah ﷻ mengingatkan dalam firman-Nya:
﴿يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ﴾
"Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedangkan mereka lalai terhadap kehidupan akhirat." (QS. Ar-Rum [30]: 7)

Ayat ini menggambarkan manusia yang pandai mengelola dunia, tapi bodoh terhadap urusan akhirat. Mereka bisa merancang bisnis global, tapi tak mampu mengatur hati. Mereka bisa membeli waktu orang lain dengan uang, tapi tidak bisa membeli satu detik tambahan dari ajal. Itulah kerugian yang tidak disadari: merasa cukup tanpa Al-Qur’an.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
«لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ»
"Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa." (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika seseorang berhenti mempelajari Al-Qur’an karena merasa hidupnya sudah mapan, di situlah dia mulai kehilangan arah. Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tetapi panduan yang menjaga hati tetap tunduk dan jiwa tetap hidup. Dalam setiap ayatnya ada nasihat yang menundukkan keangkuhan, menyejukkan kesedihan, dan meneguhkan keimanan.

Hidup tanpa Al-Qur’an seperti rumah tanpa cahaya. Ia mungkin berdiri kokoh, tapi gelap di dalamnya. Banyak orang yang tampak sukses di luar, namun hatinya kering karena jauh dari kalamullah. Allah ﷻ berfirman:
﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى﴾
"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (QS. Thaha [20]: 124)

Betapa banyak orang yang hartanya melimpah namun hidupnya terasa sesak, penuh kegelisahan, selalu khawatir kehilangan. Itulah buah dari berpaling dari Al-Qur’an: kelimpahan tanpa ketenangan. Padahal, orang yang berpegang pada wahyu akan merasakan nikmat batin yang tidak bisa dibeli.

Rasulullah ﷺ bersabda:
«خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ»
"Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari)

Belajar Al-Qur’an bukan hanya untuk mereka yang miskin atau punya banyak waktu. Justru semakin banyak nikmat yang kita punya, semakin besar tanggung jawab untuk memahami wahyu. Sebab ilmu Al-Qur’an adalah penjaga yang meluruskan niat, agar nikmat tidak berubah menjadi bencana.

Harta yang tidak disertai iman hanyalah jebakan. Ia bisa meninabobokan, menumbuhkan kesombongan halus, dan membuat seseorang lupa pada sumber nikmatnya. Allah ﷻ memperingatkan:
﴿كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَىٰ ۝ أَن رَّآهُ اسْتَغْنَىٰ﴾
"Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup." (QS. Al-‘Alaq [96]: 6-7)

Kesombongan paling halus bukanlah pada pakaian atau gelar, tapi pada hati yang berkata, “Aku tidak butuh lagi nasihat, aku sudah cukup tahu.” Inilah yang membuat seseorang semakin jauh dari hidayah. Padahal, Nabi ﷺ sendiri yang maksum tetap bermunajat dan merenung setiap malam, memohon agar hatinya tidak berpaling.

Beliau bersabda dalam doa yang penuh kelembutan:
«يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ»
"Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu." (HR. Tirmidzi)

Jika Rasulullah yang paling dekat dengan Allah masih takut hatinya berpaling, bagaimana dengan kita yang mudah terlena oleh kenikmatan dunia? Maka tidak ada alasan untuk berhenti mempelajari Al-Qur’an, meski harta, jabatan, dan keluarga tampak sempurna. Justru karena kesempurnaan dunia itulah kita harus waspada, sebab ujian terbesar sering tersembunyi di balik kenyamanan.

Allah ﷻ berfirman:
﴿وَلَوْلَا أَن يَكُونَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً لَّجَعَلْنَا لِمَن يَكْفُرُ بِالرَّحْمَـٰنِ لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِّن فِضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ﴾
"Kalau bukan karena manusia itu akan menjadi satu golongan (dalam kekafiran), niscaya Kami jadikan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pengasih atap-atap rumah dari perak dan tangga-tangga yang mereka naiki." (QS. Az-Zukhruf [43]: 33)

Ayat ini menunjukkan bahwa kemewahan dunia bukan ukuran kemuliaan di sisi Allah. Bahkan bisa jadi, itu adalah umpan untuk menguji sejauh mana seseorang tetap ingat kepada-Nya.

Harta, keluarga, dan karier bukan alasan untuk berhenti belajar. Justru mereka semua adalah amanah yang membutuhkan bimbingan wahyu agar tidak disalahgunakan. Sebab tanpa petunjuk Al-Qur’an, manusia mudah mengira dirinya sedang diberkahi, padahal sedang ditinggalkan.

Renungkanlah firman Allah ﷻ:
﴿فَأَمَّا الإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ ۝ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ ۝ كَلَّا﴾
"Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, dia berkata: 'Tuhanku telah memuliakanku.' Tetapi apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, dia berkata: 'Tuhanku telah menghinaku.' Sekali-kali tidak (demikian)." (QS. Al-Fajr [89]: 15-17)

Jadi, kesuksesan dunia tidak selalu tanda kemuliaan, dan kesulitan bukan berarti kehinaan. Semua adalah ujian. Ukuran keberhasilan sejati adalah sejauh mana kita terus mendekat kepada Allah, bukan sejauh mana dunia mendekat kepada kita.

Orang yang berhenti mempelajari Al-Qur’an berarti berhenti memperbaiki dirinya. Ia mungkin tampak bersinar di mata manusia, tapi redup di hadapan Allah. Karena itu, jangan biarkan kenikmatan dunia mematikan kebutuhan hati pada hidayah.

Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ»
"Sesungguhnya Allah meninggikan derajat suatu kaum dengan Kitab ini (Al-Qur’an), dan merendahkan yang lain karenanya." (HR. Muslim)

Maka siapa pun kita kaya atau miskin, pemimpin atau rakyat biasa—jika ingin bahagia sejati, jadikan Al-Qur’an sebagai teman harian. Bacalah, pahami, amalkan, dan hiduplah dengannya. Sebab tanpa Al-Qur’an, keberhasilan hanyalah kesia-siaan yang dibungkus keindahan semu.

Harta bisa habis, jabatan bisa hilang, keluarga bisa pergi, tapi cahaya Al-Qur’an akan tetap menyinari jiwa hingga akhir hayat. Dan pada hari ketika semua nikmat fana sirna, hanya mereka yang hidup bersama Al-Qur’an yang akan benar-benar hidup kekal dalam cahaya ridha-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEBIASAAN

Perkecil Circlemu

Bipolar Dan Kopi