Hawa Nafsu Dan Gelapnya Pandangan Cinta

Hawa Nafsu Dan Gelapnya Pandangan Cinta


Dalam perjalanan jiwa manusia, hawa nafsu sering menyelinap tanpa disadari, menggeser kejernihan hati dan menutup mata dari cahaya kebenaran. Ia datang dengan rupa yang indah, namun menyimpan kegelapan yang halus. Setiap hamba dituntun untuk waspada, karena nafsu yang tidak diarahkan akan mengikat hati, membutakan pandangan, dan menjauhkan dari petunjuk Allah.

Hawa nafsu selalu hadir sebagai ujian bagi manusia, menyentuh sisi paling rapuh dalam diri, yakni kecenderungan mencintai sesuatu secara berlebihan hingga lupa pada batas yang dituntunkan agama. Ketika cinta telah berubah menjadi ketergantungan dan keinginan menjadi penguasa hati, maka pandangan seorang hamba akan tertutup oleh kabut yang ia ciptakan sendiri. Inilah yang diingatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, ketika beliau berkata, "Hawa nafsu seringnya menjadikan pemiliknya seakan-akan tidak mengetahui kebenaran sama sekali. Karena, sesungguhnya kecintaanmu terhadap sesuatu membuat buta dan tuli.” 

Ungkapan ini bukan sekadar nasihat, tetapi cermin yang memantulkan betapa halusnya tipu daya nafsu yang mampu menutup pintu hati tanpa terasa.

Al-Qur’an pun mengisyaratkan betapa bahayanya mengikuti hawa nafsu tanpa kendali. Allah berfirman: ‎
﴿أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ﴾
yang berarti “Maka apakah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jatsiyah: 23). 

Ayat ini menggambarkan manusia yang menuruti setiap dorongan keinginan seakan-akan nafsu itulah yang ia sembah. Ia tidak lagi menimbang dengan akal, tidak lagi menilai dengan iman, dan tidak lagi menata langkah berdasarkan petunjuk. Ketika hati telah tunduk pada nafsu, maka ia akan mengabaikan kebenaran meskipun tampak jelas di hadapannya, sebagaimana seseorang yang melihat namun tidak memahami, mendengar namun tidak meresapi.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa kecintaan yang berlebihan dapat merusak akal dan keteguhan jiwa. Beliau bersabda: ‎
«حُبُّكَ لِلشَّيْءِ يُعْمِي وَيُصِمُّ» 
yang artinya, “Cintamu kepada sesuatu dapat membuatmu buta dan tuli.” 

Hadis ini bukan sekadar memperingatkan tentang cinta terhadap manusia, tetapi mencakup segala kecenderungan yang membuat hati terikat dan tidak lagi bebas menimbang antara yang benar dan yang salah. Ketika seorang hamba terlalu mencintai dunia, jabatan, pujian, atau bahkan dirinya sendiri, maka ia akan menolak nasihat yang menuntunnya menuju kebenaran, seakan-akan telinganya tertutup dari suara hikmah.

Allah juga mengingatkan: وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ
 yang berarti “Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Shad: 26). 

Ayat ini menunjukkan bahwa nafsu bukan sekadar gangguan kecil, melainkan kekuatan yang mampu menyesatkan manusia dari jalan lurus apabila tidak diawasi. Nafsu adalah seperti angin yang mendorong perahu; jika tidak dikendalikan, ia akan membawa ke arah yang tak diinginkan.

Salah satu sebab hawa nafsu begitu kuat adalah karena ia bekerja secara halus, sering kali dibungkus oleh perasaan cinta, simpati, atau pembenaran diri. Manusia sering mengira ia mengikuti suara hatinya, padahal yang ia ikuti adalah bisikan nafsu yang membungkus dirinya dengan alasan-alasan yang terdengar masuk akal. Tidak heran bila Nabi ﷺ mendoakan: ‎
«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ» 
yang artinya, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari jiwa yang tidak pernah merasa puas.” 

Jiwa semacam ini terus meminta, terus menuntut, hingga akhirnya menjerumuskan pemiliknya.

Namun, agama memberikan jalan keluar yang penuh cahaya. Hawa nafsu tidak diperintahkan untuk dimatikan, tetapi diarahkan dan dididik. Allah berfirman: ‎
﴿وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ * فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ﴾ 
yang berarti: “Adapun orang yang takut akan kedudukan Tuhannya dan menahan dirinya dari keinginan hawa nafsu, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 40–41). 

Ayat ini menegaskan bahwa kemampuan melawan nafsu adalah tanda ketakwaan dan pintu menuju kemuliaan.

Hawa nafsu memang dapat membuat cinta menjadi buta, tetapi hati yang dijaga dengan dzikir, ilmu, dan ketundukan kepada Allah akan selalu kembali cerah. Seorang hamba harus mengasah kepekaan batinnya agar tahu kapan cinta telah berubah menjadi pengikat yang membutakan. Ia harus terus memohon kekuatan kepada Allah, sebab tiada satu pun jiwa yang mampu selamat tanpa pertolongan-Nya. Setiap kali ia merasa kecenderungan berlebih mulai muncul, hendaknya ia kembali kepada firman Allah dan nasihat Nabi ﷺ, agar mata hatinya tetap jernih dan mampu melihat jalan yang diridai. Dengan demikian, cinta akan tetap menjadi cahaya, bukan kegelapan; menjadi penuntun, bukan jebakan; menjadi kekuatan yang mendekatkan diri kepada Allah, bukan yang menjauhkan dari kebenaran.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEBIASAAN

Perkecil Circlemu

Bipolar Dan Kopi