Jangan Terlalu Menabikan Nabi Muhammad

*Note : Hiraukan foto mbak ini, saya sebetulnya tak mau ikut share fotonya tp krn ada tulisan disitu yg penting jadi tetap saya sertakan.* 

Ini semua berawal dari gue sering nyimak gimana konsep barokah sekarang jauh lebih diminati ketimbang keilmuan Islam yang luas. Gue nggak mengingkari konsep berkah ya, karena itu bagian dari iman. Tapi akhir-akhir ini kata itu justru kayak jadi tempat persembunyian oknum males yang pengen hidup enak cukup modal doa. Mereka ngarep hasil besar, tapi nggak mau gerak besar. Ngamalin doa biar dapet sesuatu padahal yang lebih penting justru ngotak-ngatik strategi biar hasilnya sesuai.
Iya gue paham hasil itu urusan Allah, tapi coba lo bandingin sama dunia barat. Mereka tuh berkembang pesat bukan karena mereka lebih suci, tapi karena mereka pake akal mereka sampai batas paling mentok. Mereka bukan tipe yang pasrah buta, bukan yang nunggu mujizat, bukan yang nyerahin semua ke pendeta. Sementara di sisi lain, sebagian dari kita justru makin nyaman melempar tanggung jawab ke kata “barokah” seolah itu jalan pintas menuju sukses.
Dan gue juga paham kalau meninggalkan ulama itu berbahaya. Tapi masalah kita hari ini justru bukan meninggalkan ulama, tapi meninggalkan akal. Makanya solusi tengahnya cuma satu: kita harus kembali menjadikan Nabi sebagai sosok yang punya seribu akal, bukan sosok yang cuma punya seribu mukjizat. Kita harus balik mengenal beliau sebagai pemikir cerdas, bukan tokoh yang tinggal panen hasil dari doa-doanya.

Dan di sinilah gue mulai risih: orang-orang makin sering menjadikan Muhammad terlalu Nabi. Terlalu suci. Terlalu supernatural. Terlalu jauh dari realita. Sampai perjuangan manusiawinya hilang. Padahal inti ajaran beliau itu justru ada di fase manusiawinya, bukan di mukjizatnya.
Gue makin gelisah karena tiap kali orang memuja terlalu tinggi, justru pelajaran paling dasar dari hidup beliau jadi hilang: bahwa Allah nggak pernah nawarin shortcut. Bahkan kepada orang yang paling dicintai-Nya sekalipun.

Tapi masalahnya, begitu seseorang menganggap Muhammad terlalu Nabi, konsekuensinya fatal. Karena begitu kita meletakkan beliau di podium yang nggak bisa disentuh, kita otomatis berhenti menjadikan beliau contoh. Kita cuma bisa menyembah, tapi nggak bisa meniru. Kita cuma bisa terpesona, tapi nggak bisa berjuang kayak beliau.
Dan lo tau apa dampak paling bahaya dari pola pikir ini? Kita jadi generasi yang lebih suka nunggu mukjizat ketimbang membangun sistem. Lebih suka doa ketimbang riset. Lebih suka nangis di sajadah ketimbang mikir keras sampai pusing. Lebih suka berharap langit turun tangan ketimbang bikin strategi yang bikin bumi bergerak. Semuanya berawal dari memperlakukan Nabi bukan sebagai manusia dahsyat yang ditempa puluhan tahun, tapi sebagai figur instan yang seluruh masalahnya diberesin via jalur malaikat. Padahal justru itu yang bertentangan banget sama sejarah.
Mari kita tarik mundur dengan jujur.
Waktu pertama kali wahyu turun, beliau bukan langsung berubah jadi superhero. Beliau gemetar, takut, bingung, bahkan minta diselimuti. Itu bukan momen mukjizat. Itu momen manusia. Tapi apa yang sering kita dengar? “Beliau Nabi, wajar tabah.”
Wajar apanya? Itu justru titik awal yang memperlihatkan kalau keberanian itu bukan bawaan lahir, tapi hasil pertarungan batin.

Kalau kita hilangkan sisi manusia itu, kita hilangkan pintu masuk untuk belajar. Dan kalau pintu itu tertutup, ya kita cuma bisa duduk dari jauh sambil ngefans.
Ngefans itu nggak jelek. Tapi kalau ngefans bikin lo berhenti berkembang, itu masalah.
Coba bayangin kalau setiap ketegasan Nabi cuma dijelaskan dengan kalimat “karena beliau Nabi”. Setiap strategi perang beliau dijawab “karena beliau dibimbing wahyu”. Setiap sukses beliau dianggap “karena malaikat turun”. Apa yang tersisa buat kita pelajari? Nggak ada.
Kita cuma melihat hasil, tanpa proses. Kita cuma melihat kemenangan, tanpa strategi. Kita cuma melihat kemuliaan, tanpa pergulatan batin.
Dan begitu pola pikir ini masuk ke kepala masyarakat, muncullah generasi yang menganggap kerja keras itu opsional. Yang penting doa.
Memang iya, doa itu penting. Tapi Nabi sendiri nggak pernah pakai doa sebagai alasan buat ngelepas effort. Beliau itu orang dengan manajemen strategi yang gila-gilaan. Beliau tahu kapan tanda tangan perjanjian, kapan mundur, kapan geser posisi, kapan mengasah narasi, kapan memperkuat jaringan. Tapi karena orang-orang sibuk memuja mukjizat, sisi jenius beliau malah tenggelam. 

Padahal sejarah Islam itu penuh nuansa intelektual. Peradaban naik bukan karena banyaknya doa, tapi banyaknya akal yang dipakai. Lihat generasi Abbasiyah, lihat Baghdad, lihat Andalusia, lihat ilmuwan-ilmuwan yang bahkan Barat sendiri ngakuin. Itu semua terjadi karena mereka menafsirkan Islam bukan sebagai agama yang menunggu langit turun, tapi agama yang nyuruh otak naik.
Tapi zaman sekarang? Banyak yang justru balik ke pola pikir mistis. Seakan keberhasilan itu cuma persoalan frekuensi doa, bukan frekuensi otak bekerja.
Dan itu semua muncul gara-gara satu akar: kita menjadikan Muhammad terlalu Nabi, sampai lupa bahwa beliau juga manusia dengan kecerdasan, strategi, dan kerja keras yang luar biasa.
Kalau kita terus mengabadikan beliau sebagai sosok yang cuma berhasil karena mukjizat, kita sedang membunuh teladan beliau. Kita sedang mematikan pelajaran yang harusnya hidup di setiap gerak kita. Kita sedang merendahkan beliau secara halus, karena kita memotong bagian tersulit dari perjuangannya.

Dan yang paling parah, ini melahirkan budaya pasrah bodoh. Budaya yang menutup akal. Budaya yang menunggu dunia berubah tanpa ikut mendorongnya. Budaya yang takut bertanya karena dianggap melecehkan agama. Padahal dunia berkembang bukan karena orang agama berhenti bertanya, tapi karena mereka bertanya lebih jauh daripada siapapun.
Kalau kita mau jujur, konsekuensi paling gila dari menganggap Nabi terlalu Nabi adalah ini: kita kehilangan kemampuan untuk bertanggung jawab. Kita jadi generasi yang lebih nyaman berharap keajaiban datang, karena kita percaya Nabi pun begitu.
Padahal Nabi justru mengajarkan kebalikannya: keajaiban itu turun ke orang-orang yang sudah bergerak habis-habisan.
Nabi bukan soft magic. Nabi itu hard work plus guidance.
Dan di sinilah gue merasa kita harus mulai ngomong tegas: berhenti menaruh Nabi di ketinggian yang membuat beliau nggak relevan lagi.
Hormati beliau setinggi-tingginya, iya. Tapi pahami perjuangan beliau serendah-rendahnya, sampai kita bisa lihat kaki beliau yang juga pernah goyah, tangan beliau yang juga pernah gemetar, hati beliau yang juga pernah diguncang.
Karena justru dari situlah kita belajar cara menjadi manusia tangguh.
Bukan dengan doa aja.
Bukan dengan barokah aja.
Tapi dengan akal yang bekerja setajam-tajamnya.

Dan kalau Umat ini mau bangkit, ya caranya cuma satu: berhenti berharap Allah memperlakukan kita kayak Nabi kalau kita sendiri nggak mau berjuang kayak Nabi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEBIASAAN

Perkecil Circlemu

Bipolar Dan Kopi