Ketenangan Hati Untuk Melewati Kehidupan
Lapang Dada Dalam Kesempitan Hidup
Setiap manusia pasti pernah berada pada titik sesak dalam hidup—saat dada terasa sempit, beban pekerjaan menumpuk, dan semua urusan seperti menemui jalan buntu. Dalam keadaan seperti itu, manusia sering kali terjebak antara panik dan pasrah. Namun di tengah kesempitan itulah Allah menuntun kita dengan kalimat yang pernah dipanjatkan oleh seorang Nabi besar, yaitu Nabi Musa ‘alaihis salam. Doa yang sederhana namun sarat makna, menjadi kunci kelapangan jiwa dan kemudahan urusan:
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي • وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي • وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي • يَفْقَهُوا قَوْلِي
“Rabbisyrakh lii shodrii, wa yassir lii amrii, wahlul ‘uqdatan min lisaanii yafqahu qouli.”
Artinya: “Ya Rabbku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku agar mereka mengerti perkataanku.” (QS. Thaha: 25–28)
Doa ini bukan sekadar untaian kata. Ia adalah refleksi dari kepasrahan seorang hamba yang tahu bahwa kekuatan sejati bukan pada dirinya, melainkan pada pertolongan Allah. Nabi Musa ‘alaihis salam memanjatkan doa ini ketika diperintahkan untuk menghadapi Fir’aun penguasa yang zalim, keras kepala, dan penuh kesombongan. Namun alih-alih meminta kemenangan, Musa lebih dahulu memohon kelapangan dada. Ini pelajaran besar bagi kita: sebelum memohon kemudahan urusan, mintalah terlebih dahulu ketenangan hati. Karena dada yang lapang adalah pintu bagi semua kemudahan.
Kelapangan dada adalah anugerah yang membuat seseorang kuat menanggung beban hidup. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ
Artinya: “Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?” (QS. Asy-Syarh: 1)
Ayat ini turun untuk meneguhkan hati Nabi Muhammad ﷺ yang menghadapi penolakan, tekanan, dan kebencian dalam dakwahnya. Allah mengingatkan bahwa keberhasilan dalam urusan bukan terletak pada seberapa cepat sesuatu selesai, tetapi pada seberapa sabar dan lapang dada kita dalam menjalaninya.
Ketika dada sempit, seseorang mudah marah, mudah menyerah, dan sulit berpikir jernih. Sebaliknya, orang yang dadanya lapang akan mampu melihat peluang di balik kesulitan. Ia sadar, sebagaimana janji Allah:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Artinya: “Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 6)
Ayat ini bukan hanya penghiburan, melainkan penegasan. Allah tidak berkata “setelah kesulitan,” tapi “bersama kesulitan” menandakan bahwa di balik setiap ujian, selalu ada peluang, solusi, dan hikmah yang menyertainya.
Nabi Musa tidak hanya memohon agar urusannya dimudahkan, tapi juga agar lisannya dilancarkan. Karena dalam menjalankan tanggung jawab, sering kali hambatan bukan hanya dari luar, tapi juga dari diri sendiri ketakutan berbicara, keraguan menyampaikan, atau rasa tidak percaya diri. Doa ini menjadi terapi spiritual yang menenangkan batin dan meneguhkan langkah. Sebab lisan yang fasih dan hati yang jernih adalah modal besar dalam menghadapi setiap urusan, baik duniawi maupun ukhrawi.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ تَوَاضَعَ لِلَّهِ رَفَعَهُ اللَّهُ
Artinya: “Barang siapa merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim)
Doa Nabi Musa adalah bentuk kerendahan diri di hadapan Allah. Ia tidak meminta kehebatan, melainkan kemudahan. Ia tidak meminta kekuasaan, melainkan kelancaran. Inilah esensi doa seorang mukmin sejati bukan menuntut dunia tunduk padanya, tetapi menundukkan diri agar dunia menjadi ringan dijalani.
Para ulama menegaskan, doa ini bisa diamalkan oleh siapa pun, bukan hanya oleh para dai atau penuntut ilmu. Setiap orang yang merasa sulit menyampaikan maksud, menghadapi tekanan di pekerjaan, atau mengalami kebuntuan dalam hidup, dianjurkan membaca doa ini dengan penuh kesungguhan. Syaikh Sa’id bin Wahf Al-Qahthani dalam kitab Ad-Du’a wa al-‘Ilaj bir-Ruqo menyebutkan bahwa doa ini termasuk di antara doa paling bermanfaat dalam melapangkan urusan dan menenangkan hati.
Ketika hati mulai sesak karena beban pekerjaan, ingatlah bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Kadang Dia hanya ingin kita berhenti sejenak, menundukkan kepala, dan memohon dengan penuh ketulusan. Karena doa bukan tanda kelemahan, melainkan simbol kekuatan batin seorang mukmin yang tahu kepada siapa ia bersandar.
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan bahwa dalam setiap kesempitan, hendaklah seorang hamba berbaik sangka kepada Allah. Beliau bersabda:
يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي
Artinya: “Allah berfirman: Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka barang siapa yakin bahwa Allah akan memudahkan urusannya, Allah akan bukakan jalan keluar dari arah yang tak disangka-sangka.
Doa Nabi Musa bukan hanya wirid, melainkan panduan hidup. Ia mengajarkan tiga prinsip ketenangan: pertama, lapangkan dada agar tidak tertekan oleh keadaan. Kedua, mohon kemudahan agar tidak terpaku pada kesulitan. Ketiga, minta kelancaran lisan agar setiap komunikasi membawa keberkahan. Jika tiga hal ini menyatu dalam diri seorang mukmin, maka segala urusan akan menjadi ringan meski dunia di sekelilingnya terasa berat.
Jadi, saat hati sempit dan pekerjaan terasa menyesakkan, jangan terburu-buru mencari pelarian. Hentikan langkah sejenak, ambil wudhu, dan bacalah doa ini dengan penuh kesadaran. Rasakan setiap katanya menembus dada, seolah Musa ‘alaihis salam sedang mengajarkannya langsung kepada kita. Karena siapa pun yang memohon dengan hati yang tulus, niscaya Allah akan menurunkan ketenangan, sebagaimana firman-Nya:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Maka di balik kesempitan, ada ruang untuk bersujud. Di balik sesak, ada doa yang melapangkan. Dan di balik urusan yang belum selesai, ada Rabb yang selalu siap membantu, asal kita mau kembali kepada-Nya dengan hati yang berserah.
Komentar
Posting Komentar