Kita Semua Adalah Pasien Kehidupan

*Jangan Jadi Hakim, Karena Besok Bisa Giliran Kita*

> *“Jangan mudah menghakimi; perilaku hari ini tidak menjamin perilaku di masa depan.”*

Kalimat ini sederhana, tapi tajam. Ia seperti cermin: makin jernih, makin jelas noda di wajah kita sendiri.

Manusia punya kebiasaan aneh. Ketika melihat orang jatuh, refleks pertama bukan menolong, tapi menilai. “Tuh kan, sudah kuduga!” seolah hidup ini lomba menebak kesalahan orang lain. Padahal belum tentu nasib kita lebih baik—mungkin hanya karena belum diuji di level yang sama.

Kita sering merasa suci bukan karena benar-benar bersih, tapi karena belum ketahuan kotor. Bisa jadi kita cuma beruntung. Orang yang hari ini korupsi mungkin dulu rajin salat. Orang yang hari ini mabuk mungkin dulu rajin mengaji. Dan orang yang sekarang berdiri gagah di mimbar bisa saja suatu hari jatuh di lubang yang sama dengan yang ia ceramahkan. Hidup bukan foto; ia video panjang yang belum selesai diputar.

Bayangkan seorang ustaz yang setiap minggu mengingatkan jamaah soal bahaya alkohol. Ia tulus. Tapi ketika anaknya sendiri kecanduan miras, semua ceramahnya berubah jadi bahan sindiran. Orang-orang yang dulu bertepuk tangan kini berbisik, “Katanya ustaz, kok anaknya begitu?” Dunia punya cara aneh untuk menampar balik orang yang merasa aman di zona benar. Kadang yang menasihati harus merasakan langsung apa yang ia nasihati agar benar-benar mengerti maknanya.

Begitu juga dengan si pencuri dan hakim dalam kisah lama. Seorang hakim menjatuhkan hukuman enam bulan penjara kepada pencuri yang mengaku lapar. Beberapa tahun kemudian, roda kehidupan berputar. Sang hakim jatuh miskin dan... mencuri. Dan yang menjadi hakim dalam persidangan barunya adalah anak dari pencuri yang dulu ia hukum. Dunia ini bulat bukan karena teori Galileo, tapi karena putaran nasib manusia.

Kebenarannya sederhana: manusia bukan hakim, tapi pasien. Kita semua sedang berobat di rumah sakit kehidupan. Setiap orang punya penyakit—ego, iri, sombong, dendam, rasa ingin menilai. Bedanya cuma kadar infeksinya. Ada yang parah, ada yang ringan, ada yang sekadar pandai menutupi dengan kosmetik moral.

Ketika seseorang menilai orang lain, sebenarnya ia hanya sesama pasien yang sedang mencibir pasien lain di ruang rawat. “Eh, batukmu parah banget.” Padahal paru-parunya sendiri sudah berlubang, cuma belum diperiksa. Yang sehat bukan yang tak pernah sakit, tapi yang sadar sedang dirawat.

Hidup tak bisa dinilai dari satu potongan adegan. Kalau seseorang datang ke bioskop menit ke-10 lalu keluar, ia tak akan tahu siapa tokoh jahat sebenarnya. Begitu juga manusia. Yang terlihat kotor bisa jadi sedang berjuang membersihkan diri. Yang tampak suci bisa jadi sedang menutupi noda dengan bedak rohani.

Karena itu, berhentilah cepat-cepat memberi label. Jangan terburu-buru menyimpulkan hidup seseorang dari satu kesalahan. Bisa jadi yang dihakimi hari ini, suatu saat justru jadi guru kehidupan. Dan yang dibanggakan hari ini, bisa saja menjadi cermin kejatuhan nanti.

Kita semua sedang dalam perjalanan—penuh luka, belajar, berulang kali jatuh dan bangkit. Maka jangan jadi hakim; jadilah pasien yang sadar bahwa setiap manusia, tanpa kecuali, sedang mencari jalan untuk sembuh.***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEBIASAAN

Perkecil Circlemu

Bipolar Dan Kopi