Meninggalkan Dan Ditinggalkan
Hidup Adalah Cerita Tentang Keikhlasan
Hidup ini tidak pernah menjanjikan kesempurnaan. Segala yang kita genggam akan suatu hari terlepas, dan segala yang kita cintai akan suatu saat pergi. Namun, di antara datang dan hilang itu, Allah menitipkan pelajaran yang paling dalam: keikhlasan. Sebab sejatinya, hidup hanyalah cerita tentang meninggalkan dan ditinggalkan, tentang menerima takdir dengan hati yang lapang.
Hidup bukan soal memiliki segalanya, melainkan bagaimana hati mampu tenang meski kehilangan apa pun. Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan bahwa dunia hanyalah tempat singgah sementara:
﴿وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ﴾
"Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya." (QS. Ali Imran: 185)
Ayat ini mengingatkan bahwa keindahan hidup bukan pada kepemilikan, melainkan pada kesadaran untuk tidak tertipu oleh gemerlapnya dunia. Karena dunia bukan tempat menetap, melainkan tempat kita belajar mengikhlaskan. Seorang mukmin yang bijak bukan yang tak pernah kehilangan, melainkan yang tetap bersyukur saat kehilangan itu datang.
Sering kali manusia terjebak dalam bayangan tentang kesempurnaan hidup. Kita ingin semua berjalan sesuai kehendak kita, padahal setiap takdir telah Allah tulis jauh sebelum kita lahir. Rasulullah ﷺ bersabda:
«عَجَبًا لأَمْرِ المُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ»
"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang beriman. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesulitan, ia bersabar maka itu juga baik baginya." (HR. Muslim)
Inilah rahasia indahnya hidup: tidak ada yang sia-sia bagi orang yang beriman. Bahkan kehilangan pun menjadi ladang pahala jika diterima dengan sabar. Maka, tak perlu menangisi sesuatu yang pergi, sebab mungkin di balik kehilangan itu Allah sedang menyiapkan kebaikan yang lebih besar.
Hidup sejatinya mengajarkan tentang kefanaan. Apa pun yang kita miliki hanyalah titipan. Orang tua, sahabat, pasangan, harta, jabatan semuanya akan kembali kepada-Nya. Allah berfirman:
﴿إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ﴾
"Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali." (QS. Al-Baqarah: 156)
Ayat ini bukan hanya kalimat penghibur saat musibah datang, tapi pengingat yang sangat dalam: bahwa segala sesuatu yang pergi sejatinya tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tangan, dari kita kembali kepada Pemilik sejati. Maka, berlapang dadalah ketika sesuatu lepas dari genggaman. Karena yang sejati tak pernah benar-benar pergi, ia hanya menunggu di sisi Allah.
Ketika hati terlalu menggenggam dunia, yang terasa hanyalah lelah. Padahal hidup ini seperti aliran sungai: ia akan terus bergerak, membawa kita dari satu takdir menuju takdir berikutnya. Menolak arus hanya membuat kita tenggelam dalam penyesalan. Tapi bila kita belajar mengikuti aliran dengan ridha, hati akan mengapung dalam ketenangan.
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa yang begitu lembut namun bermakna dalam:
«اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا»
"Ya Allah, berilah kami rasa takut kepada-Mu yang dapat menghalangi kami dari maksiat kepada-Mu; ketaatan kepada-Mu yang akan menyampaikan kami ke surga-Mu; dan keyakinan yang membuat ringan bagi kami segala musibah dunia." (HR. Tirmidzi)
Doa ini mengajarkan bahwa ketenangan bukan datang dari memiliki banyak hal, melainkan dari keyakinan bahwa setiap kejadian adalah bagian dari kasih sayang Allah. Ketika kita percaya bahwa semuanya sudah dalam rencana-Nya, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.
Derita dan bahagia, sejatinya hanya buah dari cara kita berpikir. Ketika hati kita condong pada syukur, maka segalanya terasa indah, bahkan luka pun tampak sebagai nikmat. Namun bila hati dikuasai keluh kesah, maka kebahagiaan pun terasa sempit. Karena itu, Allah mengingatkan:
﴿لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ﴾
"Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu." (QS. Ibrahim: 7)
Hidup menjadi indah bukan karena bebas dari ujian, tapi karena hati belajar bersyukur di dalamnya. Orang yang ridha akan selalu bahagia, sebab ia tahu semua datang dari Allah, dan Allah tidak mungkin menzalimi hamba-Nya.
Maka, biarkan hidup mengalir sebagaimana air sungai mengalir ke muara. Jangan menahan, jangan melawan, cukup jalani dengan ikhlas. Jika bahagia datang, syukuri. Jika duka menghampiri, sabari. Karena keduanya adalah guru kehidupan yang mendewasakan jiwa.
Pada akhirnya, hidup memang cerita tentang meninggalkan dan ditinggalkan. Namun, di balik setiap perpisahan, ada kasih Allah yang tidak pernah pergi. Sebab yang benar-benar hilang bukanlah orang atau benda, melainkan kesadaran kita akan makna takdir. Ketika hati telah mengerti bahwa semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya, maka tak ada lagi yang perlu ditangisi, tak ada yang perlu digenggam berlebihan.
Kehidupan ini hanya persinggahan singkat, dan setiap langkah kita menuju pulang. Maka jalani dengan hati yang tenang, dengan pikiran yang jernih, dengan iman yang lurus. Karena di balik setiap kehilangan, Allah sedang mengajarkan kita satu kata yang paling indah dalam hidup ini: keikhlasan.
Komentar
Posting Komentar