Omongan Orang
Hati-Hati Dengan Cerita Orang
Tidak semua kebencian yang tertuju kepadamu lahir karena kesalahanmu. Sering kali, ia tumbuh dari lidah-lidah yang iri dan hati-hati yang busuk. Dalam hidup, ujian terbesar bukanlah fitnah yang datang dari musuh, melainkan dari mereka yang pernah duduk tertawa bersamamu. Islam mengajarkan agar tetap jernih, sabar, dan menjaga diri dari bisikan iri.
Dalam kehidupan, fitnah adalah bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan manusia. Kadang seseorang dibenci bukan karena ia berbuat salah, melainkan karena ada lidah-lidah yang melontarkan dusta dan hati yang diselimuti iri. Al-Qur’an sudah menyinggung hal ini dengan sangat jelas. Allah ﷻ berfirman:
﴿إِن تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِن تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا﴾
"Jika kamu memperoleh kebaikan, mereka merasa tidak senang; tetapi jika kamu ditimpa kesusahan, mereka bergembira karenanya." (QS. Āli ‘Imrān [3]: 120)
Ayat ini menggambarkan tabiat orang yang hatinya dipenuhi hasad: ia tidak suka melihat saudaranya bahagia. Dari sinilah muncul cerita-cerita palsu, gosip, dan fitnah yang disebarkan untuk meruntuhkan nama baik seseorang. Padahal, dalam pandangan Islam, menyebarkan berita bohong adalah dosa besar yang dapat menghancurkan keimanan seseorang. Rasulullah ﷺ bersabda:
«كفى بالمرء كذبًا أن يحدث بكل ما سمع»
"Cukuplah seseorang dikatakan berdusta jika ia menceritakan semua yang ia dengar." (HR. Muslim)
Fitnah lahir dari lidah yang tidak dijaga dan hati yang tidak bersih. Orang yang iri tidak akan mampu melihat kelebihan orang lain tanpa merasa tersakiti. Iri (hasad) adalah penyakit hati yang sangat berbahaya, karena bisa menghapus amal kebaikan sebagaimana api membakar kayu kering. Rasulullah ﷺ bersabda:
«إياكم والحسد، فإن الحسد يأكل الحسنات كما تأكل النار الحطب»
"Waspadalah kalian terhadap hasad, karena hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar." (HR. Abu Dawud)
Karena itu, ketika kita dibenci tanpa sebab yang jelas, jangan terburu-buru bersedih. Bisa jadi bukan karena keburukan kita, melainkan karena orang lain tidak tahan melihat cahaya kebaikan yang Allah karuniakan kepada kita. Tetaplah tenang, sebab Allah Maha Mengetahui siapa yang benar dan siapa yang berdusta. Firman-Nya:
﴿وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ﴾
"Tipu daya yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang membuat tipu daya itu sendiri." (QS. Fāṭir [35]: 43)
Ayat ini menjadi penenang bagi hati yang terzalimi. Sebab fitnah, sehebat apa pun, tak akan bertahan lama di hadapan kebenaran. Waktu akan membuka tabir dan menunjukkan siapa yang tulus dan siapa yang culas. Karena itu, sabar adalah senjata paling kuat menghadapi kebohongan dan kebencian.
Namun, sabar bukan berarti pasrah tanpa sikap. Islam mengajarkan agar kita berhati-hati memilih teman, sebab tidak semua yang tertawa di samping kita adalah saudara yang sejati. Rasulullah ﷺ memberi perumpamaan yang dalam:
«المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل»
"Seseorang itu tergantung pada agama temannya, maka hendaklah kalian melihat dengan siapa kalian berteman." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Teman sejati bukanlah yang banyak tertawa bersama, tapi yang menasihati dalam diam, menegur dengan lembut, dan mendoakan di balik punggung kita. Orang yang tulus akan menjaga rahasiamu sebagaimana ia menjaga dirinya sendiri. Maka jangan terlalu mudah membuka semua sisi hidup kepada siapa pun, karena tidak semua orang layak mengetahui seluruh kisahmu.
Dalam dunia yang semakin terbuka ini, fitnah sering beredar lebih cepat daripada kebenaran. Satu kata yang salah bisa menjadi bara yang membakar nama baik seseorang. Karena itu, Allah ﷻ memperingatkan:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ﴾
"Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum karena kebodohan, lalu kalian menyesal atas perbuatan itu." (QS. Al-Ḥujurāt [49]: 6)
Betapa banyak hubungan hancur, persaudaraan retak, dan kepercayaan sirna hanya karena lidah yang tidak terjaga. Maka berhati-hatilah: diam kadang lebih bernilai daripada seribu kata. Menjaga lisan berarti menjaga kehormatan diri dan orang lain. Rasulullah ﷺ bersabda:
«من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرًا أو ليصمت»
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)
Jika engkau difitnah, jangan membalas dengan fitnah. Jika engkau dibenci, jangan membenci. Sebab balasan yang terbaik bukanlah dengan amarah, melainkan dengan keikhlasan. Allah ﷻ berfirman:
﴿ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ﴾
"Tolaklah kejahatan dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara engkau dan dia ada permusuhan akan menjadi seolah-olah teman yang setia." (QS. Fuṣṣilat [41]: 34)
Ayat ini bukan sekadar anjuran moral, tapi juga terapi spiritual bagi hati yang terluka. Sebab kebaikan adalah api yang memadamkan kebencian, sementara kebencian hanya melahirkan dendam baru.
Akhirnya, ingatlah bahwa hidup ini adalah ujian kejujuran. Tidak semua orang akan senang dengan langkahmu, dan tidak semua telinga akan mau mendengar kebenaran. Tapi selama engkau jujur kepada Allah dan bersih niatnya, maka biarlah fitnah datang, biarlah dusta beredar karena kebenaran akan tetap berdiri kokoh pada waktunya.
Maka jangan sibukkan diri dengan membela nama di mata manusia, tapi sibukkanlah diri untuk tetap benar di hadapan Allah. Sebab pandangan manusia fana, sementara pandangan Allah abadi. Dan di hadapan-Nya, semua kebenaran akan terungkap, semua dusta akan terbakar.
Komentar
Posting Komentar