Mari Kita Bahas Tentang Sholat
Keindahan Hidup Dalam Shalat
Shalat bukan sekadar kewajiban, tapi pertemuan suci antara hamba dan Rabb-nya. Ia adalah napas bagi ruh, cahaya bagi hati, dan kesejukan bagi jiwa. Namun banyak yang menganggapnya beban, bukan anugerah. Padahal, di balik setiap takbir dan sujud, tersimpan rahasia kebahagiaan dan ketenangan yang tak bisa dibeli oleh dunia.
Di antara ibadah yang paling mulia dan agung dalam Islam adalah shalat. Ia bukan hanya ritual, melainkan tiang agama dan penentu keberlangsungan iman seorang hamba. Nabi ﷺ bersabda:
رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ، وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الجِهَادُ
"Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad."
(HR. Tirmidzi, no. 2616)
Shalat adalah penopang keimanan. Bila tiangnya roboh, maka seluruh bangunan amal akan runtuh. Namun sayang, banyak di antara kita yang memperlakukan shalat seolah beban. Kita mendirikannya tanpa rasa, tergesa-gesa, bahkan menunda-nunda seakan Allah tidak melihat. Padahal, yang menunaikan shalat bukan sedang memberi kepada Allah, melainkan sedang diselamatkan oleh-Nya.
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
"Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar."
(QS. Al-‘Ankabūt: 45)
Ayat ini menegaskan bahwa shalat bukan hanya gerakan fisik, tapi juga sarana penyucian diri. Seseorang yang menjaga shalat dengan benar akan menjaga lisannya dari dusta, matanya dari maksiat, dan hatinya dari kesombongan. Sebaliknya, mereka yang meninggalkan shalat akan kehilangan arah, sebab shalat adalah tali pengikat antara manusia dan Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
"Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, maka sungguh ia telah kafir."
(HR. Tirmidzi, no. 2621)
Hadis ini bukan sekadar ancaman, tapi peringatan yang menunjukkan betapa besar kedudukan shalat dalam Islam. Shalat adalah pembeda antara iman dan kufur. Maka wajar jika para ulama menempatkan shalat sebagai prioritas pertama setelah keimanan.
Namun, dalam kehidupan modern, banyak yang menukar waktu shalat dengan urusan dunia. Ada yang rela meninggalkan shalat demi pekerjaan, rapat, atau hiburan. Mereka lupa bahwa dunia tidak pernah memberi ketenangan sejati. Ketenangan itu hanya hadir ketika dahi bersujud di hadapan Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:
جُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ
"Dijadikan kesejukan hatiku dalam shalat."
(HR. An-Nasa’i, no. 3940)
Bagi Rasulullah ﷺ, shalat bukan beban, melainkan pelarian dari penatnya dunia. Setiap kali menghadapi persoalan, beliau segera berkata, "Yā Bilāl, ariḥnā biṣ-ṣalāh" “Wahai Bilal, tenangkanlah kami dengan shalat.” (HR. Abu Dawud, no. 4985). Sungguh, mereka yang menjadikan shalat sebagai tempat beristirahat akan selalu menemukan kedamaian, bahkan di tengah badai kehidupan.
Shalat juga merupakan bentuk komunikasi langsung antara hamba dan Tuhannya. Dalam setiap rakaat, seorang muslim berdialog dengan Rabb-nya. Ketika membaca Al-Fatihah, Allah ﷻ menjawab setiap ayat yang dibaca oleh hamba-Nya. Rasulullah ﷺ bersabda:
قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ
"Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta."
(HR. Muslim, no. 395)
Ketika seorang hamba mengucapkan, الحمد لله رب العالمين (Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam), Allah menjawab, حمدني عبدي (Hamba-Ku telah memuji-Ku). Betapa agungnya kedekatan ini, namun sayangnya banyak yang lalai. Mereka membaca tanpa rasa, rukuk tanpa makna, dan sujud tanpa hati.
Padahal, shalat adalah sarana penghapus dosa. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا، هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ؟ قَالُوا: لَا، قَالَ: فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا
"Bagaimana pendapat kalian jika ada sungai di depan rumah salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi di sana lima kali sehari, apakah masih tersisa kotoran pada tubuhnya?" Para sahabat menjawab: 'Tidak.' Beliau bersabda: 'Begitulah perumpamaan shalat lima waktu, Allah menghapus dosa-dosa dengan shalat itu.'"
(HR. Bukhari dan Muslim)
Mereka yang memahami makna ini akan menantikan waktu shalat dengan rindu, bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Mereka akan menegakkan shalat dengan hati yang hidup, bukan dengan tubuh yang kosong.
Shalat juga menjadi cahaya di dunia dan akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda:
الصَّلَاةُ نُورٌ
"Shalat itu adalah cahaya."
(HR. Muslim, no. 223)
Cahaya itu menuntun langkah di dunia dan menerangi jalan di akhirat. Ia menjadi pelita di kubur yang gelap dan penolong di hari pembalasan. Maka tidak heran jika para sahabat dahulu begitu menjaga shalat bahkan di medan perang. Abdullah bin Mas’ud radhiyallāhu ‘anhu berkata: “Barang siapa ingin melihat sejauh mana kedudukan Islam di hatinya, maka lihatlah sejauh mana perhatian dia terhadap shalat.”
Kini, kita perlu merenung. Betapa banyak nikmat Allah yang kita nikmati tanpa sujud syukur. Betapa sering kita mencari solusi ke mana-mana, tapi lupa bahwa penenang hati itu ada di sajadah. Allah ﷻ berfirman:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
"Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk."
(QS. Al-Baqarah: 45)
Khusyuk tidak muncul dari hafalan panjang, tetapi dari hati yang sadar bahwa ia sedang berbicara dengan Rabb-nya. Bila hati hadir, maka shalat menjadi surga sebelum surga.
Semoga kita menjadi hamba yang mencintai shalat, bukan sekadar menjalankannya. Menjadikan setiap rakaat sebagai pelukan rohani, setiap sujud sebagai tempat kembali. Sebab, barang siapa menjaga shalat, maka Allah akan menjaga seluruh hidupnya. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُورًا وَبُرْهَانًا وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Barang siapa menjaga shalat, maka shalat itu akan menjadi cahaya, bukti, dan penyelamat baginya pada hari kiamat."
(HR. Ahmad, no. 6580)
Maka mari kita perbaiki hubungan kita dengan Allah melalui shalat. Jadikan ia bukan sekadar rutinitas, tapi pertemuan cinta yang dirindukan. Karena dalam setiap sujud, sejatinya kita sedang pulang ke rumah jiwa menuju Rabb yang Maha Penyayang.
Komentar
Posting Komentar