Usaha Maximal, Hasil Tawakal
*Kau Boleh Berlari, Tapi Garis Akhir Sudah Digambar*
Apa pun yang kau usahakan,
ia tetap akan *mengalir ke garis yang telah ditetapkan*.
Bukan karena usahamu sia-sia,
tapi karena *usahamu bukan penentu akhir*.
Kau belajar keras, begadang, memaksa diri—
namun satu keputusan kecil di luar kendalimu bisa membelokkan segalanya.
Satu orang.
Satu peristiwa.
Satu detik.
Di situlah manusia mulai gila oleh overthinking:
merasa semuanya harus bisa dikendalikan,
padahal hidup *tidak pernah meminta izin*.
Orang yang tidak pernah puas
adalah orang yang diam-diam menuntut Tuhan
untuk mengikuti rencana pikirannya.
Ia berusaha, lalu berkata:
> “Seharusnya hasilnya lebih.”
Padahal hidup menjawab:
> “Ini cukup. Kau saja yang rakus.”
Ketidakpuasan bukan lahir dari kekurangan,
tapi dari *penolakan terhadap garis takdir*.
Usaha bukan untuk memaksa hasil.
Usaha adalah *cara Tuhan menilai kesungguhan*,
bukan alat untuk memeras kenyataan.
Jika hasil selalu sesuai keinginan,
manusia tidak butuh iman—
cukup kalkulator.
Overthinking adalah bentuk ibadah palsu:
terlihat serius,
tapi sebenarnya *tidak percaya*.
Tidak percaya bahwa:
* rezeki punya jalurnya,
* umur punya batasnya,
* hasil punya takarannya.
Kau capek bukan karena hidup berat,
tapi karena *melawan arus yang tak bisa kau bendung*.
Tenang bukan berarti menyerah.
Tenang berarti tahu kapan berhenti memukul tembok
dan mulai *berdiri di tempat yang memang disediakan untukmu*.
Usahakan yang bisa kau usahakan.
Sisanya, lepaskan.
Karena apa pun yang kau paksa,
akan tetap bermuara
pada garis yang sudah ditetapkan.
Dan di situlah kedamaian dimulai—
bukan saat semua sesuai rencana,
tapi saat kau berhenti menuntut hidup
untuk tunduk pada pikiranmu.***
Komentar
Posting Komentar