Waktu Muda Dan Tua
Yang Layak Dibanggakan Dalam Hidup
Manusia kerap terpesona pada apa yang tampak kuat, indah, dan memikat di permukaan. Tubuh sehat, wajah rupawan, dan tenaga yang berlimpah sering dijadikan alasan untuk merasa lebih tinggi dari yang lain. Namun waktu selalu berjalan lurus ke depan. Ia mengikis kebanggaan palsu, menyisakan pertanyaan hakiki: apa yang sungguh bernilai dan layak dibanggakan di hadapan Allah?
Kakek atau nenek yang kita jumpai hari ini pernah berdiri di titik yang sama dengan kita. Mereka pernah merasakan tubuh yang tegap, langkah yang ringan, dan usia yang terasa panjang. Masa muda memberi ilusi keabadian, seakan kekuatan dan kecantikan adalah milik selamanya. Namun waktu tidak pernah bernegosiasi. Ia berjalan perlahan, pasti, dan tak bisa ditawar. Dari tubuh yang dulu dibanggakan, kini tersisa jejak cerita, keriput pengalaman, dan kekuatan yang menurun. Di sanalah manusia seharusnya belajar: tidak ada yang benar-benar abadi di dunia ini.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan hakikat itu dengan bahasa yang tegas dan jujur. كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan yang kekal hanyalah wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 26–27). Ayat ini menegaskan bahwa tubuh, usia, dan kekuatan hanyalah titipan sementara. Yang kekal hanyalah Allah dan nilai amal yang dikerjakan karena-Nya.
Karena itu, pertanyaan dalam gambar dan narasi di atas menjadi sangat relevan: apa yang sebenarnya layak untuk disombongkan? Fisik yang suatu hari akan menua? Kekuatan yang suatu saat akan melemah? Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa kebanggaan semu sering menjerumuskan manusia pada kesombongan yang dibenci Allah. لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji zarrah dari kesombongan.” (HR. Muslim). Kesombongan lahir ketika manusia lupa bahwa semua kelebihan hanyalah pinjaman.
Islam tidak melarang manusia merawat tubuh dan menikmati kesehatan. Justru tubuh adalah amanah. Rasulullah ﷺ bersabda: إِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا
“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu.” (HR. Bukhari). Hak itu berarti dijaga, dipelihara, dan digunakan untuk ketaatan. Bukan untuk berbangga diri, apalagi merendahkan orang lain. Kesehatan bukan panggung kesombongan, melainkan sarana beramal.
Al-Qur’an juga mengingatkan fase-fase kehidupan agar manusia tidak terperdaya. اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً
“Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah kembali dan beruban.” (QS. Ar-Rum: 54). Ayat ini seperti cermin, memaksa manusia bercermin pada masa depan dirinya sendiri.
Yang patut dibanggakan bukanlah rupa, melainkan arah. Bukan sekadar kuatnya otot, tetapi kuatnya komitmen pada kebaikan. Nabi ﷺ menegaskan standar kemuliaan manusia bukan pada fisik. إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَىٰ أَجْسَامِكُمْ وَلَا إِلَىٰ صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh dan rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim). Hati yang lurus dan amal yang ikhlas itulah yang akan bertahan ketika tubuh hancur dimakan usia.
Maka benar jika dikatakan: bukan tubuh yang perlu dibanggakan, melainkan bagaimana tubuh itu digunakan. Tangan untuk menolong, kaki untuk melangkah ke kebaikan, mata untuk melihat kebenaran, dan waktu untuk memperbanyak amal. Inilah bekal yang akan menemani manusia ketika seluruh kebanggaan dunia ditanggalkan.
Renungan Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah sangat menusuk kesadaran: “Duhai kiranya kapan seseorang akan berfikir dan merenung pada suatu hari, ‘Apa yang telah aku amalkan selama ini. Dan berapa umurku yang tersisa di dunia ini?’” (Al-Qaul al-Mufid). Pertanyaan itu seharusnya hadir sebelum tubuh melemah, bukan setelah semuanya terlambat.
Pada akhirnya, yang tersisa bukan seberapa hebat penampilan kita, melainkan seberapa bermakna hidup yang kita jalani. Ketika usia menua dan kekuatan memudar, hanya amal saleh yang akan berbicara. Di situlah letak kemuliaan sejati yang tidak lapuk dimakan waktu.
Komentar
Posting Komentar