Ayo Membaca
MANFAAT MEMBACA BAGI MEREKA YANG MALAS MEMBACA
Oleh Benny Arnas
Pagi itu timeline penuh sekali. Bukan kabar penting, bukan sains mutakhir, bukan terobosan budaya, melainkan seorang selebgram lokal yang dengan percaya diri mengutip “kata-kata bijak Einstein” tentang cinta. Masalahnya, kutipan itu bukan dari Einstein. Bahkan bukan dari ilmuwan. Setelah ditelusuri oleh para warga net yang terlalu gabut untuk tidak peduli, ternyata kalimat itu pernah dipakai iklan obat kuat tahun 1998. Namun si selebgram tetap membela diri. Ia berkata, “Saya kira bagus saja. Lagian siapa sih yang sempat baca panjang panjang.”
Kalimat itu menampar saya seperti kipas angin kos yang muternya miring. Di titik itu saya sadar sesuatu. Banyak sekali orang yang tidak suka membaca, dan justru karena itulah mereka sangat membutuhkan membaca.
Bukan membaca novel 600 halaman atau teori poskolonial yang bikin kita ingin pura pura pingsan. Tapi membaca sederhana: cek sumber, pahami konteks, hindari malu.
***
Fenomena selebgram salah kutip itu bukan hal kecil. Di Korea Selatan pada tahun 2020, sebuah rumor bahwa garam bisa menetralisir COVID 19 jika dikumur menyebar begitu cepat sampai banyak warga benar benar mengantre beli garam di minimarket. Pemerintah turun tangan mengklarifikasi. Kok bisa terjadi? Karena kita hidup di zaman ketika membaca pelan dianggap tidak penting. Semuanya harus cepat. Semuanya harus yakin. Semuanya harus segera dibagikan.
Padahal orang yang malas membaca sering kali justru berada di garis depan dalam memproduksi kekacauan kecil. Atau meminjam peringatan dari Al Quran, “Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak punya pengetahuan tentangnya.” (QS. Al Isra: 36). Ringkas, elegan, dan sangat relevan dengan era ketika banyak orang mengikuti apa pun asal viral.
***
Saya percaya bahwa orang malas membaca bukan karena tidak mampu. Mereka hanya pernah punya pengalaman traumatik kecil. Mungkin pernah disuruh membaca teks panjang dalam pelajaran sejarah jam terakhir. Atau pernah dipaksa membaca buku motivasi yang sama sekali tidak lucu. Jadilah membaca identik dengan beban.
Namun riset justru menunjukkan hal sebaliknya. Semakin sedikit seseorang membaca, semakin rentan ia terhadap misinformasi. Sebuah studi tahun 2022 dari Stanford Internet Observatory menemukan bahwa perilaku literasi rendah berhubungan langsung dengan tingginya tingkat kepercayaan pada berita palsu. Orang yang jarang membaca cenderung tidak memeriksa ulang informasi sebelum menyebarkannya. Mereka menganggap membaca itu dekorasi intelektual, bukan kebutuhan dasar.
Di sinilah kebenaran yang agak pahit. Orang yang malas membaca justru yang paling membutuhkan membaca. Bukan untuk menjadi cerdas, itu hanya bonus. Tetapi agar mereka bisa bertahan hidup di tengah informasi yang menyesatkan.
Contohnya banyak. Lihat peristiwa nyata di Jepang pada tahun 2018 ketika dua turis asing salah menafsirkan papan peringatan di Gunung Mihara. Mereka mengira jalur yang ditutup hanya ditutup untuk mobil, padahal untuk semua manusia bernyawa. Mereka akhirnya tersesat nyaris menuju area jurang. Polisi menyebut penyebab utamanya ketidakhati hatian memahami instruksi tertulis. Alias malas membaca.
Ada pula kisah yang viral dari Tiongkok beberapa tahun lalu tentang seorang mahasiswa yang mengembalikan buku perpustakaan terlambat selama lima tahun. Ia mengira denda di papan pengumuman itu diterapkan hanya pada musim panas. Padahal kalimat Mandarinnya berarti mulai musim panas tahun itu denda diberlakukan kembali. Kesalahan baca, kesalahan hidup.
Pepatah Cina berkata, “Dushu po wanguan, xia bi ru you shen” yang berarti membaca sepuluh ribu buku membuat tulisan mengalir seperti diberi ilham. Namun mungkin pepatah itu butuh tambahan untuk era digital. Tidak membaca sepuluh paragraf pun cukup membuat seseorang salah paham sepuluh tahun.
***
Orang yang tidak suka membaca biasanya punya pembelaan khas. “Saya kan orang praktis. Saya langsung ke intinya saja.” Padahal justru karena terlalu praktis itulah mereka mudah melewatkan inti.
WA : 04-12-25
Komentar
Posting Komentar