Ketika Sungkan Ke Saudara
“Saat Kita Menjauh dari Keluarga Karena Tidak Punya Apa-Apa”
Ada seorang ibu menulis komentar yang sangat jujur.
Kalimatnya pendek…
tapi terasa berat.
“Terkadang kita pengen bersilaturahmi ke keluarga pak, tapi kadang kita merasa lagi dlm ujian ekonomi. Saat kita datang seolah-olah kita dianggap mau merepotkan mereka. Jadi saya mendingan menarik diri dulu… apakah tindakan saya salah pak?”
Saya membaca kalimat itu lama.
Karena ini bukan hanya cerita satu orang.
Ini cerita banyak orang yang sedang diuji hidup.
Orang yang sedang jatuh secara ekonomi sering mengalami satu perasaan yang sangat menyakitkan:
merasa dirinya jadi beban.
Datang ke keluarga…
takut dianggap mau pinjam uang.
Datang ke saudara…
takut dianggap mau merepotkan.
Akhirnya pelan-pelan mereka mengambil keputusan yang sangat sunyi:
menjauh.
Bukan karena tidak sayang.
Bukan karena tidak ingin silaturahmi.
Tapi karena takut dipandang rendah.
Padahal sering kali yang terjadi bukan orang lain yang menjauhkan kita…
tetapi perasaan di dalam diri kita yang membuat kita mundur.
---
Ujian ekonomi sering membuat hati menjadi sensitif
Ketika seseorang sedang sulit secara finansial,
hati menjadi lebih mudah terluka.
Satu tatapan terasa seperti penilaian.
Satu kalimat terasa seperti sindiran.
Padahal belum tentu orang lain berpikir seperti itu.
Sering kali yang paling keras menghakimi diri kita adalah diri kita sendiri.
---
Silaturahmi bukan datang membawa sesuatu
Banyak orang merasa silaturahmi itu harus datang dengan membawa:
oleh-oleh
hadiah
atau uang.
Padahal dalam Islam…
silaturahmi itu membawa hati.
Kadang yang paling dibutuhkan oleh keluarga kita bukan uang.
Tapi kehadiran.
Tawa.
Cerita.
Doa.
Ada orang tua yang sebenarnya hanya ingin melihat anaknya datang sebentar.
Ada saudara yang sebenarnya hanya ingin mendengar kabar kita.
---
Menarik diri terlalu lama bisa membuat hati semakin sempit
Ada fase dalam hidup ketika seseorang memang perlu menenangkan diri.
Itu manusiawi.
Tapi jika menarik diri terlalu lama…
hati bisa semakin terasa sempit.
Karena manusia sebenarnya diciptakan untuk saling menguatkan.
Kadang justru ketika kita datang dengan keadaan sederhana…
kita menemukan bahwa keluarga kita tidak seburuk yang kita bayangkan.
---
Yang penting adalah menjaga niat hati
Jika suatu hari kita datang bersilaturahmi…
datanglah dengan niat yang jujur.
Bukan untuk meminta.
Bukan untuk mengeluh.
Tapi hanya untuk menyambung hubungan.
Katakan saja dengan ringan:
“Saya cuma ingin silaturahmi… sudah lama tidak bertemu.”
Sederhana.
Tapi sering kali itu sudah cukup.
---
Dalam hidup ini ada satu pelajaran yang pelan-pelan saya pahami.
Ketika kita sedang di atas…
banyak orang datang.
Ketika kita sedang diuji…
kita belajar siapa yang benar-benar tulus.
Tapi yang lebih penting dari itu adalah satu hal:
jangan sampai ujian hidup membuat kita memutuskan hubungan dengan orang yang sebenarnya masih menyayangi kita.
Karena sering kali yang kita kira penolakan…
hanya ketakutan di dalam hati kita sendiri.
Dan kadang…
silaturahmi yang kita takutkan itu justru menjadi obat yang menenangkan hati kita.
---
Kalau tulisan ini terasa seperti cerita hidup Anda…
Anda tidak sendirian.
Banyak orang sedang berjuang dalam diam.
Dan semoga Allah menjaga hati kita…
agar ujian hidup tidak membuat kita kehilangan manusia yang mencintai kita.
Sutrisno Nurhumaedi
Pendamping Hijrah Dari Riba
Komentar
Posting Komentar