Penyimpangam Hasil Pembinaan
Infilat Tarbawi
(Penyimpangan Hasil Pembinaan)
Tarbiyah (aktivitas pembinaan), sebagaİ upaya manusia, bisa saja--na'udzubillah mengalami infilat tarbawi. Artinya hasil tarbiyah yang tidak terkontrol, hasil kerja keras, pengorbanan dari ikhwan dan akhwat, bisa saja natijah-nya jelek. Tidak sesuai dengan yang kita inginkan.
Infilat tarbawi biasanya dalam bentuk:
1. Munculnya tasyaddud, sikap eksklusif, ekstrem. Ini harus dipantau. Merasa benar sendiri, padahal kita memiliki pandangan ijabiyah ru'yah (memandang sisi positif). Pada hakekatnya kebaikan itu ada dimana-mana. Cuma ada yang terkonsolidasi oleh kita dan ada yang belum.
2. Bersikap kamaliyyat, bersikap perfeksionis. Seolah-olah tarbiyah itu targetnya menciptakan insan malaki, manusia berkualitas malaikat. Itu juga bentuk infilat tarbawi, bentuk penyimpangan. Ungkapan, "Sudahlah jangan dulu begini. Kita kan masih banyak kekurangan". Padahal kekurangan itu adalah bagian dari kemanusiaan kita. Yang penting kekurangan kita jangan dominan. Bahwa kekurangan itu ada, dan memang akan selalu ada selagi masih bernama manusia.
"Jangan berpolitiklah, kita juga masih banyak kekurangan. Jangan ikut Pilkada lah, kita kan banyak qodhoya (masalah)!"
Masalah ini mungkin perlu kita cari mekanisme dan solusinya.
Sesungguhnya, rawa'i, keunggulan, dan keindahan muamalah ikhwan dan akhwat jauh lebih banyak dari qodhoya nya. Cuma keunggulan dan keindahan itu semua tidak pernah diumumkan, tidak pernah jadi ta'limat.
Ta'awun ikhawi baina ikhwan, baina akhwat, (kebiasaan saling tolong menolong didasari rasa persaudaraan antara ikhwan, antara akhwat) merupakan keindahan yang tidak dimiliki oleh komunitas lain. Tapi tidak muncul dalam ta'limat.
Sementara jaringan dakwah kita semakin melebar. Qodhoya (masalah) mengalir semua ke DPP, muncullah daftar qodhoya yang panjang. Wallahu a'lam.
Mungkin perlu cara penanganan qodhoya secara berjenjang, diselesaikan secara bertahap. Sehingga tidak menumpuk. Itu semua antum yang akan menanganinya, karena antum adalah qidayah tanfidziyyah (pimpinan pelaksana). Baik di DPP, Dewan Syari'ah, atau di MPP.
3. Bentuk infilat tarbawi yang lain adalah juz'iyyah (parsialisme). Hanya menukik di sektor tertentu saja. Misalnya ruhiyah saja, sementara fikriyah kurang berkembang. Sehingga pertumbuhan cara berfikirnya ketinggalan. Tidak mampu menghadapi komunikasi fikriyah seperti yang kita jumpai di lapangan setelah musyarokah ini. Atau menukik hanya di bidang fikriyah atau siyasah saja. Ini adalah infilat tarbawi dalam bentuk juz'iyyah. Padahal yang kita harapkan adalah tarbiyah yang integral dan terpadu.
(Kutipan taujih KH. Hilmi Aminuddin yang disampaikan dalam Pendidikan Kesadaran Berkonstitusi, kerjasama PKS dengan Mahkamah Konstitusi, Hotel Santika Jakarta, Ahad, 28 Januari 2007)
NB: Diedit dengan sedikit perubahan kata tanpa mengurangi makna.
#ayolebihbaik #inspirasi #ulama #gerakantarbiyah #islam
Komentar
Posting Komentar