Semua Manusia Hidup Dalam Hukum Yang Sama


 

*Hubungan Ontologis yang Apa Adanya*

Ada satu hal yang sering terlupakan dalam memahami hubungan manusia dengan Allah.

Hubungan ontologis adalah hubungan yang dilihat berdasarkan hakikat keberadaan (wujud) masing-masing pihak, bukan sekadar berdasarkan perasaan, aturan sosial, atau fungsi.

Jadi hubungan ontologis Allah–manusia bukan pertama-tama soal “Allah menyuruh manusia berbuat apa?”, tetapi lebih dalam:

Allah adalah al-Khaliq → manusia adalah makhluk.

Konsekuensinya, manusia tidak berdiri sendiri. Keberadaannya bergantung kepada Allah. Sementara Allah tidak bergantung kepada manusia.

Dari sini muncul hukum yang objektif. Manusia akan maju jika tindakannya selaras dengan kenyataan wujudnya sebagai makhluk: memahami keterbatasannya, memahami hukum sebab-akibat yang Allah tetapkan, lalu bertindak secara rasional.

Karena itu, hubungan manusia dengan Allah bukan hubungan dua pihak yang setara. Ini adalah hubungan ontologis: hubungan antara Yang Menciptakan dan yang diciptakan.

Allah menetapkan hukum wujud

Allah tidak hanya menciptakan manusia, tetapi juga menciptakan realitas beserta hukum-hukumnya.

Api membakar.
Air membasahi.
Tubuh membutuhkan makanan.
Orang yang belajar memperoleh pengetahuan.
Orang yang bekerja dengan benar memiliki peluang memperoleh hasil.

Semua itu berjalan secara objektif.
Hukum tersebut tidak berubah hanya karena manusia menginginkan hasil yang berbeda.

Inilah yang dapat disebut hukum wujud rahmani: tata aturan Allah yang bekerja di dalam realitas kehidupan.

Karena itu, manusia tidak cukup hanya berharap. Ia harus memahami hukum yang sedang bekerja.

Ingin sehat, pahami hukum kesehatan.
Ingin kaya, pahami hukum ekonomi.
Ingin berilmu, belajar.
Ingin masyarakat maju, bangun ilmu, disiplin dan sistem yang baik.

Doa tidak menggantikan hukum realitas. Doa justru seharusnya mendorong manusia bergerak di dalam hukum tersebut.

Kesalahan manusia adalah melawan realitas
Banyak orang ingin mendapatkan hasil tanpa memahami sebab yang menghasilkan hasil itu.
Ingin sukses tetapi tidak mau belajar.
Ingin kaya tetapi tidak memahami cara mengelola harta.
Ingin sehat tetapi mengabaikan hukum tubuh.
Ingin masyarakat maju tetapi mempertahankan cara berpikir yang tidak menghasilkan kemajuan.

Ketika hasilnya buruk, semuanya sering disebut takdir.
Padahal bisa saja masalahnya bukan pada takdir, melainkan pada ketidaktahuan terhadap hukum wujud yang Allah tetapkan.

Di sinilah akal menjadi penting.
Manusia diberi kemampuan untuk membaca realitas, menemukan hubungan sebab-akibat, lalu memilih tindakan yang paling tepat.

Negara2 maju mengaplikasikan hubungan ontologis ini melalui pemikiran rasional dan logis sehingga mampu menguasai kehidupan di berbagai aspek.

Keberhasilan dalam konteks ontologis ini tidak ditentukan oleh doa atau banyaknya shalat malam atau banyaknya berpuasa, namun ditentukan oleh aktivitas rasional dan logis terhadap hukum2 wujud  obyektif.

Memahami Allah seharusnya membuat manusia semakin rasional. Memahami hubungan ontologis ini akan menghilangkan cara berpikir mistis dan berbagai cerita mitos. 

Semakin seseorang memahami posisi ontologisnya sebagai ciptaan, semakin ia sadar bahwa dirinya tidak bisa memaksa realitas mengikuti keinginannya.

Ia akan bertanya:
Apa hukum yang berlaku?
Apa sebabnya?
Apa yang harus saya lakukan?

Pertanyaan seperti ini melahirkan ilmu, eksperimen, perencanaan dan tindakan.
Maka menjadi rasional bukan berarti menjauh dari Allah.

Sebaliknya, rasionalitas dapat menjadi konsekuensi dari kesadaran bahwa manusia hidup di dalam ciptaan Allah yang memiliki keteraturan.***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pria Diumur 30 Tahun

Kebencian Penyakit Yang Mematikan