Kesedihan Yang Mengarahkan Pada Seeuatu
Kita hidup di zaman yang seolah mengajarkan bahwa setiap kesedihan harus segera disingkirkan. Ketika hati terluka, kita mencari hiburan. Ketika kehilangan, kita berusaha melupakan. Ketika kecewa, kita memaksa diri untuk segera kembali tersenyum.
Padahal tidak semua kesedihan datang untuk menghancurkan kita.
Sebagian kesedihan datang untuk menghentikan kita sejenak.
Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din membahas keadaan-keadaan batin manusia bukan sekadar sebagai emosi yang harus dituruti atau dihilangkan, tetapi sebagai sesuatu yang perlu dikenali arahnya. Dalam perjalanan spiritual, rasa takut, sedih, harap, dan cinta dapat menjadi dorongan yang mengarahkan manusia kepada Allah apabila ditempatkan dengan benar.
Karena itu, kesedihan tidak selalu menjadi musuh.
Ada kesedihan yang membuat seseorang sadar bahwa selama ini ia terlalu menggantungkan kebahagiaannya kepada manusia.
Ada kesedihan yang membuat seseorang berhenti mengejar sesuatu yang sebenarnya sedang menghancurkan dirinya.
Ada kesedihan yang membuat seseorang kembali berdoa setelah sekian lama merasa tidak membutuhkan siapa-siapa.
Dan ada kesedihan yang membuka sebuah kenyataan yang selama ini sengaja kita hindari.
Mungkin selama ini kita mengira sedang kehilangan sesuatu.
Padahal sebenarnya kita sedang kehilangan ilusi tentang sesuatu.
Kita kecewa karena seseorang ternyata tidak seperti yang kita bayangkan. Kita patah hati karena sebuah rencana gagal. Kita merasa hidup tidak adil karena sesuatu yang sangat kita inginkan tidak terjadi.
Tetapi beberapa tahun kemudian, kita baru mengerti bahwa tidak semua yang kita inginkan memang baik untuk kita.
Di sinilah kesedihan kadang bekerja secara diam-diam.
Ia memaksa kita berhenti.
Ia membuat kita bertanya kembali.
Ia meruntuhkan kesombongan bahwa kita selalu tahu apa yang terbaik bagi diri sendiri.
Ibn ‘Atha’illah al-Sakandari juga berkali-kali mengingatkan dalam Al-Hikam agar seorang hamba tidak terlalu cepat menilai keadaan yang sedang dialaminya. Sesuatu yang terasa berat belum tentu buruk, sebagaimana sesuatu yang terasa menyenangkan belum tentu membawa kebaikan bagi perjalanan batin.
Namun ini bukan berarti setiap kesedihan harus dianggap sebagai tanda khusus dari Allah atau bahwa seseorang tidak boleh mencari pertolongan ketika sedang menderita. Tidak semua rasa sedih memiliki makna yang langsung bisa kita pahami.
Kadang tugas kita bukan mencari jawaban secepat mungkin.
Kadang kita hanya perlu melewati rasa itu dengan sabar, berdoa, mengambil pelajaran yang bisa diambil, dan tetap melanjutkan hidup.
Sebab kesedihan yang diterima dengan kesadaran bisa berubah menjadi muhasabah.
Kehilangan bisa menjadi pelepasan.
Kekecewaan bisa menjadi pelajaran tentang keterikatan.
Dan air mata yang selama ini ingin kita sembunyikan bisa menjadi jalan untuk kembali mengenali betapa lemahnya diri kita.
Maka jangan selalu bertanya, “Bagaimana caranya agar aku tidak sedih lagi?”
Sesekali tanyakan:
“Apa yang sedang kesedihan ini tunjukkan tentang diriku?”
Mungkin ia sedang menunjukkan bahwa hatimu terlalu bergantung kepada manusia.
Mungkin ia sedang memperlihatkan keinginan yang selama ini menguasaimu.
Atau mungkin ia sedang mengajarkan sesuatu yang paling sulit: bahwa hidup tidak harus berjalan sesuai dengan keinginan kita agar tetap memiliki makna.
Tidak semua kesedihan datang untuk membuatmu jatuh. Sebagian datang untuk membuatmu berhenti berjalan ke arah yang salah.

Komentar
Posting Komentar