Tujuan UPA

 


🦚UPA: TEMPAT JIWA DITEMPA UNTUK MEMIKUL DAKWAH🍁

Lalu untuk apakah sebenarnya kita datang ke UPA?

Apakah agar pekan demi pekan ada pertemuan yang terlaksana?

Apakah agar materi demi materi selesai disampaikan?

Apakah agar daftar hadir tetap penuh, struktur pembinaan berjalan, dan setiap orang tetap berada dalam lingkarannya?

Semua itu penting.

Tetapi bukan itu tujuan akhirnya.

UPA bukan tujuan.

UPA adalah madrasah.

Dan keberhasilan sebuah madrasah tidak diukur dari berapa lama murid duduk di dalam kelasnya, tetapi dari manusia seperti apa yang keluar darinya.

Maka pertanyaan besar UPA bukan:

“Berapa banyak materi yang telah kita selesaikan?”

Tetapi:

“Apa yang telah berubah dalam diri kita?”

Setelah sekian lama ditarbiyah, apakah kita semakin mengenal Allah?

Apakah shalat semakin hidup?

Apakah Al-Qur'an semakin dirindukan?

Apakah dosa semakin menakutkan?

Apakah hati semakin mudah tersentuh?

Apakah ego semakin mudah ditundukkan?

Apakah lisan semakin terjaga?

Apakah kita semakin mudah menerima nasihat?

Apakah semakin ringan meminta maaf?

Apakah semakin mudah memberi?

Apakah semakin kuat menanggung kekurangan saudara?

Dan setelah bertahun-tahun berbicara tentang dakwah—

apakah kita semakin siap berkorban untuk dakwah?

Di sinilah tujuan praktis UPA harus dikembalikan kepada ruhnya.

UPA bukan sekadar tempat menyampaikan fikrah. UPA adalah tempat membentuk manusia pemikul fikrah.

Sebab fikrah yang besar membutuhkan jiwa yang besar.

Risalah yang berat membutuhkan pundak yang kuat.

Perjalanan yang panjang membutuhkan napas yang panjang.

Dan dakwah yang ingin mengubah manusia membutuhkan para da‘i yang terlebih dahulu bersedia diubah oleh tarbiyah.

---

Dari Ta‘līm Menuju Tazkiyah

Tarbiyah memang membutuhkan ilmu.

Tetapi tarbiyah tidak berhenti pada ilmu.

Sebab manusia dapat mengetahui ikhlas tanpa menjadi ikhlas.

Mengetahui sabar tanpa menjadi penyabar.

Menjelaskan ukhuwah tanpa mampu memaafkan saudaranya.

Menguraikan tadhḥiyah tanpa sanggup meninggalkan kenyamanan.

Berbicara tentang zuhud sementara hatinya semakin mencintai dunia.

Karena itu Allah tidak hanya mengutus Rasul-Nya untuk mengajarkan kitab dan hikmah. Di antara tugas kerasulan itu adalah tazkiyah.

Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

«“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah. Sesungguhnya sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

(QS. Al-Jumu‘ah: 2)»

Maka UPA yang benar tidak hanya membuat seseorang bertambah tahu tentang Islam.

UPA harus membuat seseorang semakin hidup dengan Islam.

Ilmunya turun ke hati.

Dari hati turun menjadi kemauan.

Kemauan berubah menjadi amal.

Amal diulang menjadi kebiasaan.

Kebiasaan ditempa menjadi akhlak.

Dan akhlak itulah yang akhirnya menjadi syakhshiyyah—kepribadian seorang da‘i.

Inilah tarbiyah.

---

Dari Tazkiyah Menuju Mujāhadah

Tetapi jangan kita bayangkan tazkiyah sebagai perjalanan yang lembut tanpa perlawanan.

Tidak.

Ada sesuatu di dalam diri kita yang terus ingin dipertahankan:

nafs.

Ia ingin nyaman.

Ia ingin dipuji.

Ia ingin dimengerti.

Ia ingin didahulukan.

Ia ingin dianggap penting.

Ia ingin menang.

Ia ingin mendapatkan bagian.

Ia ingin dakwah berjalan—tetapi kalau mungkin berjalan sesuai keinginannya.

Karena itu tazkiyah membutuhkan mujāhadah.

Dan mujāhadah membutuhkan riyāḍah (رياضة): latihan, penempaan, dan pembiasaan diri.

Maka UPA harus menjadi tempat kita berlatih.

Bukan hanya berbicara tentang disiplin—

tetapi datang tepat waktu.

Bukan hanya membicarakan ukhuwah—

tetapi mengunjungi saudara yang sakit.

Bukan hanya menjelaskan itsar—

tetapi belajar mendahulukan orang lain.

Bukan hanya membahas ikhlas—

tetapi tetap bekerja ketika tidak disebut.

Bukan hanya berbicara tentang ketaatan—

tetapi belajar menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan selera kita selama ia dalam kebaikan.

Bukan hanya membahas tadhḥiyah—

tetapi benar-benar memberikan waktu, tenaga, harta, pikiran dan kenyamanan.

Bukan hanya berbicara tentang kesehatan—

tetapi bangun, bergerak, berjalan, berlari, berkeringat dan menjaga tubuh yang Allah amanahkan.

Karena nilai yang tidak pernah dilatih akan selamanya tinggal sebagai pengetahuan.

Sedangkan tarbiyah ingin mengubah pengetahuan menjadi sulūk.

---

Dari Tazkiyah Menuju Harakah

Di sinilah satu hal harus ditegaskan.

Tazkiyah dalam tarbiyah dakwah bukanlah tazkiyah yang membuat seseorang sibuk menyelamatkan dirinya sendiri lalu melupakan manusia.

Justru semakin bersih hati seseorang, seharusnya semakin besar kegelisahannya melihat manusia jauh dari Allah.

Semakin dekat ia kepada Allah, semakin besar rahmatnya kepada makhluk Allah.

Semakin hidup ruhiyahnya, semakin kuat dorongannya untuk berkhidmat.

Sebab kita tidak ditarbiyah hanya untuk menjadi shalih.

Kita ditarbiyah agar tumbuh menjadi mushlih.

Bukan hanya orang yang baik—

tetapi orang yang menghadirkan kebaikan.

Bukan hanya orang yang menikmati hidayah—

tetapi orang yang membawa hidayah mengetuk pintu hati manusia.

Di sinilah tarbiyah bertemu dengan harakah.

Tazkiyah membersihkan sumber gerak.
Tarbiyah mengarahkan gerak.
Harakah membawa gerak itu memasuki kehidupan.

Maka ruhiyah yang tidak melahirkan gerak perlu dipertanyakan.

Sebagaimana gerak yang tidak lahir dari ruhiyah juga harus dikhawatirkan.

Yang pertama dapat melahirkan kesalehan yang pasif.

Yang kedua dapat melahirkan aktivisme yang kering.

Sedangkan yang ingin kita lahirkan adalah:

hati yang hidup bersama Allah dan kaki yang aktif berjalan di tengah manusia.

Ia lama bersujud pada malam hari—

tetapi panjang langkahnya pada siang hari.

Ia menangis ketika membaca Al-Qur'an—

tetapi air matanya berubah menjadi kasih sayang kepada manusia.

Ia mengingat akhirat—

tetapi justru semakin bersungguh-sungguh memperbaiki dunia.

Ia mencintai khalwah bersama Allah—

tetapi tidak menjadikan khalwah alasan meninggalkan kewajiban kepada manusia.

Inilah manusia dakwah.

---

Datang untuk Diisi, Pulang untuk Memberi

Karena itu UPA tidak boleh menjadi lingkaran yang berputar pada dirinya sendiri.

Kita datang ke UPA—

untuk kemudian keluar dari UPA.

Kita datang untuk diisi—

agar pulang membawa sesuatu yang dapat diberikan.

Kita datang untuk ditazkiyah—

agar pulang mampu berkhidmat.

Kita datang untuk dikuatkan—

agar pulang mampu menguatkan.

Kita datang untuk diingatkan—

agar pulang mampu mengingatkan.

Kita datang sebagai mutarabbi—

agar suatu hari mampu mentarbiyah manusia lainnya.

Inilah sunnat kehidupan dakwah.

Jika seseorang terus-menerus hanya menerima, tetapi tidak pernah belajar memberi, maka ada mata rantai tarbiyah yang belum selesai.

Sebab salah satu buah tarbiyah adalah tawallud da‘wi—lahirnya kemampuan untuk melahirkan kebaikan berikutnya.

UPA harus melahirkan manusia yang bertanya:

Siapa yang dapat kubantu?

Siapa yang dapat kurangkul?

Siapa yang sedang lemah dan membutuhkan tanganku?

Siapa yang belum mengenal jalan ini?

Siapa yang dapat kubina?

Siapa yang dapat kusiapkan untuk kelak meneruskan perjalanan setelah aku tiada?

Karena dakwah tidak diwariskan hanya dengan dokumen.

Dakwah diwariskan dari hati kepada hati, dari manusia kepada manusia, dari generasi kepada generasi.

---

Maka Ukurlah UPA dari Buahnya

Jangan hanya bertanya:

"Apakah UPA pekan ini terlaksana?"

Tanyakan pula:

Apakah shalat anggota kita semakin baik?

Apakah hubungan mereka dengan Al-Qur'an semakin hidup?

Apakah akhlaknya di rumah semakin indah?

Apakah keluarganya merasakan buah tarbiyahnya?

Apakah ia semakin mudah menerima nasihat?

Apakah ukhuwahnya semakin dalam?

Apakah tubuhnya semakin dijaga?

Apakah disiplin hidupnya meningkat?

Apakah amanahnya semakin dapat dipercaya?

Apakah ia semakin ringan berkhidmat?

Kemudian tanyakan sesuatu yang lebih haraki:

Siapa yang sedang ia dekati?

Siapa yang sedang ia ajak kepada Allah?

Siapa yang sedang ia bina?

Kebaikan apa yang sedang ia gerakkan di tengah masyarakat?

Dan akhirnya tanyakan pertanyaan yang paling sunyi:

Apakah setelah semua aktivitas ini ia semakin dekat kepada Allah?

Karena kita tidak ingin melahirkan orang yang aktif tetapi kering.

Tidak pula orang yang khusyuk tetapi tidak bergerak.

Kita menginginkan manusia yang ruhiyahnya menjadi bahan bakar harakahnya dan harakahnya menjadi buah dari ruhiyahnya.

---

UPA adalah Tempat Menyiapkan Manusia untuk Panjangnya Jalan

Dakwah adalah perjalanan panjang.

Akan ada masa seseorang dipuji.

Akan ada masa ia dilupakan.

Ada masa berada di depan.

Ada masa harus berjalan di belakang.

Ada masa amanah datang bertubi-tubi.

Ada masa tidak ada seorang pun yang membutuhkan pendapatnya.

Jika tarbiyah hanya mengajarinya cara bekerja, ia mungkin akan berhenti ketika pekerjaannya diambil.

Tetapi jika tarbiyah mengajarinya untuk siapa ia bekerja, ia akan tetap berjalan.

Jika ia bekerja karena kedudukan, ia akan berhenti ketika kedudukan hilang.

Jika ia bergerak karena manusia, ia akan kecewa kepada manusia.

Jika ia berkhidmat karena penghargaan, ia akan lelah ketika tidak dihargai.

Tetapi jika sejak awal hatinya ditanamkan:

لِلَّهِ

Untuk Allah.

Maka ketika semua yang lain hilang—

masih ada Allah.

Dan selama masih ada Allah sebagai tujuan,

masih ada alasan untuk berjalan.

Inilah tujuan terbesar UPA.

Bukan sekadar mempertahankan seseorang agar terus hadir dalam pertemuan.

Tetapi menanamkan Allah begitu dalam di dalam orientasi hidupnya sehingga ia memiliki alasan untuk tetap istiqamah ketika seluruh penyangga manusiawi telah runtuh.

---

Inilah Tujuan Praktis UPA

UPA harus melahirkan manusia yang:

hidup ruhiyahnya,
bersih jiwanya,
matang akhlaknya,
jernih fikrahnya,
kuat ukhuwahnya,
disiplin hidupnya,
sehat raganya,
kokoh amanahnya,
ringan khidmahnya,
panjang napas dakwahnya,
dan mampu melahirkan manusia-manusia dakwah berikutnya.

Inilah UPA yang hidup.

Bukan UPA yang hanya berhasil mempertahankan pertemuan—

tetapi UPA yang berhasil melahirkan manusia.

Bukan UPA yang membuat orang semakin nyaman berada di dalam lingkaran—

tetapi UPA yang membuat orang semakin siap keluar membawa cahaya kepada kehidupan.

Bukan sekadar UPA yang segar dan bugar—

tetapi UPA yang membuat:

ruhnya segar karena dzikir,
hatinya segar karena tazkiyah,
ukhuwahnya segar karena cinta,
tubuhnya bugar karena riyāḍah,
dan dakwahnya bugar karena manusia-manusia yang terus bergerak.

Sebab pada akhirnya,

UPA adalah madrasah tarbiyah.
Tarbiyah adalah jalan tazkiyah.
Tazkiyah melahirkan mujāhadah.
Mujāhadah ditempa dengan riyāḍah (رياضة).
Riyāḍah melahirkan istiqamah.
Dan istiqamah melahirkan rijāl yang sanggup memikul panjangnya jalan dakwah.

Maka ketika kita pulang dari UPA, jangan hanya membawa catatan.

Bawalah perubahan.

Jangan hanya membawa ilmu.

Bawalah amal.

Jangan hanya membawa semangat.

Bawalah istiqamah.

Jangan hanya membawa kehangatan ukhuwah.

Bawalah saudara kita bersama-sama menuju Allah.

Dan jangan hanya bertanya:

"Apa yang kudapatkan dari UPA hari ini?"

Tetapi biasakan hati bertanya:

“Setelah Allah mentarbiyahku melalui majelis ini, apa yang harus kuberikan kepada dakwah dan manusia?”

Di situlah UPA menemukan maknanya.

Dari Allah kita menerima hidayah.
Dengan tarbiyah kita menjaganya.
Dengan tazkiyah kita membersihkan wadahnya.
Dengan riyāḍah kita menempa diri untuk memikulnya.
Dan dengan dakwah kita membawanya kepada manusia.

Lalu perjalanan itu terus berulang—

dari hati ke hati,
dari jiwa ke jiwa,
dari generasi ke generasi—

hingga kita tidak lagi mampu berjalan,

tetapi insya Allah masih ada manusia-manusia yang dahulu pernah disentuh oleh tarbiyah kita,

yang meneruskan perjalanan menuju Allah.

.......
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Alfaqier Ilaa 'Afwi Rabbih

Wildan Hakim

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pria Diumur 30 Tahun

Kebencian Penyakit Yang Mematikan

Membaca Memberi Kamu Ketenangan